Rabu, 27 Februari 2013

Bertemu Bondan

Senin pagi 25 Februari di Bandara SMB II Palembang.
Saya bertemu dengan salah satu penulis favorit saya, Bondan Winarno. Ya, penulis. Bagi saya Bondan adalah penulis. Lebih dari sekadar pencicip hidangan seraya mengangkat jempolnya sambil berkata "Maknyus.."

Saya katakan kepada Beliau, saya suka karya tulisnya bukan acara kulinernya. Bagaimana pun maknyusnya masakan yang dipujinya, buat saya kumpulan cerpen "Cafe Opera" itu lebih luar biasa maknyus. Cafe Opera itu kumpulan beberapa cerpen. Kisahnya macam-macam. Susah menggambarkannya. Yang jelas, bukan tentang makanan. Yang terang, banyak berseting luar negeri.

Waktu saya kuliah di STAN, saya pernah diskusikan buku itu dengan kakak kelas saya Helmy Yahya. Helmy juga suka buku itu. Ceritanya antara lain tentang editor wanita di Singapur yang tak bisa berinspirasi tanpa menghisap mariyuana, dsb. Bondan menggunakan bahasa yang jarang digunakan, seperti "lebuh jalanan", "kujemba tangannya", serta gambaran jalan-jalan di lokasi luar negeri yang membawa kita seperti kita berada di sana. Saya juga pengen nulis yang seperti itu. Ke luar negerinya sudah sempat, tapi menuliskannya malah yang belum sempat. Untuk "Cafe Opera" ini, sayang, sampai sekarang saya (bahkan Beliau sendiri) ngga nemu lagi kumpulan cerpen itu.
Karya-karyanya yang lain yang masih dikenang adalah "Kiat", yang sekarang tidak muncul lagi di majalah "Tempo". Bahkan ada informasi, yang menerjemahkan pertama komik Asterix dan Obelix itu ya Pak Bondan ini.
Ketika saya tanya, mengapa tidak nulis lagi, Beliau hanya menjawab lirih, "Nggak sempat lagi.."
Tapi ya ngga apa. Yang penting saya sempat belajar dari tulisan-tulisan Beliau. Dan pagi itu, yang penting, saya punya kesempatan foto bersama Beliau.

Ah, Pak Bondan. Maknyus sekali..!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar