Internal auditor pemerintah diyakini dapat memberikan andil bagi kemajuan governance pemerintah dengan pembangunan kapasitasnya secara terarah, berkelanjutan dan tersistem. Di Ohio, Amerika Serikat, hal itu tak lagi cuma janji, tapi bukti.
![]() |
| Peserta shortcourse IA-CM di depan kelas IIA, Dublin, Ohio. |
Internal Audit Capability Model atau IA-CM bagi kami, 15 pegawai BPKP dari berbagai unit kerja pusat dan perwakilan, adalah kenangan salju putih yang menerpa kami di medio Desember 2012 di Ohio State, di Amerika Serikat yang dingin.
Tak hanya dinginnya salju, dinginnya kemurungan juga menyambut kedatangan kami di Amerika Serikat dengan adanya dua kali peristiwa penembakan maut oleh remaja Amerika kepada puluhan masyarakat dan anak-anak sekolah di Oregon dan Connecticut saat itu. Namun, di tengah bendera-bendera setengah tiang yang berkibar layu di seluruh negara bagian wilayah Paman Sam dengan keprihatinan yang menyedihkan itu, semangat kami menimba ilmu di negeri adidaya itu tak pernah surut.
Trotoar sepanjang Tuttle Crossing Bolevard, adalah saksi bisu perjalanan dan semangat kami yang berjalan kaki menerjang cuaca Ohio yang beku dari wisma ke kampus sejauh 1,5 km setiap hari, kecuali Sabtu dan Ahad, selama dua minggu. Selama masa itu, setiap pagi, sejak hari pertama yang masih jet lag, kami menapak dan menyeberangi lalu lintas yang sepi dari tepian Emerald Parkway Street, Dublin, sampai akhirnya tiba di kampus The Institute of Internal Auditor (IIA). Di kampus beraroma keju dari hidangan yang siap disajikan itu, sepanjang 12 hari kami ditempa dalam kawah candradimuka tentang IA-CM.
Apakah gerangan IA-CM, yang membuat kami harus menempuh penerbangan KLM setengah perjalanan dunia, Jakarta-Columbus, via Amsterdam selama 22 jam, dengan jetlag time 12 jam itu ? IA-CM sesuai riset The Institute of Internal Auditors Research Foundation (IIARF) didefinisikan sebagai “..a framework that identifies the fundementals needed for effective internal auditing in the public sector.” Sebuah kerangka kerja yang mengidentifikasikan kebutuhan fundamental internal audit sektor publik agar bisa berperan efektif.
| Saya, Bambang, Pimpy, Jim dan Evan. |
Bagi pegawai di lingkungan BPKP, IA-CM sebenarnya bukan barang baru. Toh sudah ada beleid Peraturan Kepala BPKP nomor: Per–1633/K/JF/2011 tentang Pedoman Teknis Peningkatan Kapabilitas Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP), yang tak lain adalah IA-CM. Lima level IA-CM kapabilitas APIP pun umumnya sudah pada mahfum, yaitu Level 1 (Initial), Level 2 (Infrastructure), Level 3 (Integrated), Level 4 (Managed), dan Level 5 (Optimizing). Bahkan dengan IA-CM ini pula, pada tahun 2010, Pusat Pembinaan Jabatan Fungsional Auditor (Pusbin JFA) BPKP, telah memetakan bahwa 93% APIP di Indonesia masih berada pada Level 1 (Initial) alias ad-hoc dan tidak terstruktur, sedangkan sisanya 7% berada pada Level 2 (Infrastructure) dengan peran masih sebatas mengaudit kepatuhan.
| Diskusi kelompok |
Namun, mengingat keseriusan peran BPKP dalam Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang SPIP, yang antara lain sebagai pembina APIP, dan selaras pula dengan pernyataan Misi Ketiga BPKP, yaitu “Meningkatkan Kapasitas APIP”, kebutuhan memperdalam jurus membangun kapabilitas internal audit yang efektif di pemerintah Indonesia itu menjadi concern kami selama dua minggu, sejak 11 sampai dengan 24 Desember 2012, di Ohio, Amerika Serikat.
Di sana, kebutuhan untuk itu dipenuhi antara lain oleh dua dosen bule di kampus IIA Dublin Ohio, yaitu James C. Key, CIA dan Elizabeth MacRae, CGAP. Di samping itu, dalam dua kali kunjungan ke The Office of Internal Audit (OIA, inspektorat negara bagian Ohio di Columbus) kami juga mendapat materi dari Joe Bell (Chief Audit Executive, CAE, Ohio State), dan Jim Kennedy, Deputy Director of State Accounting and Reporting, The Office of Budget and Management / OBM).
James C. Key, CIA dosen pada minggu pertama di kampus IIA, Dublin, adalah dosen yang energik sekaligus humoris. Kami memanggilnya “Jim” (“Just call me Jim!” ujarnya setiap kami mencoba memanggilnya dengan sapaan “Sir”). Dan, Jim adalah pria setengah baya dengan typical auditor senior dan segudang pengalaman. Ia mantan Director Internal Audit IBM Corporation, yang ketika masih aktif di perusahaan kaliber internasional itu bertanggungjawab atas pelaksanaan audit di wilayah Amerika Utara dan Asia Pacific.
Pada minggu pertama itu, Jim menguraikan mengenai standar dan kode etik yang tercantum dalam International Standards for the Professional Practice of Internal Auditing dan Code of Ethics. Selain itu, penilaian kegiatan internal auditor pun dipandunya dengan buku “Quality Assessment Manual for the Internal Auditor Activity”.
Jim antara lain menegaskan pentingnya “Internal Audit Charter” antara pimpinan (CEO) dengan inspektur (chief audit executive, CAE)-nya. Charter atau perjanjian yang harus dilakukan antara pimpinan dan inspekturnya ini menegaskan sifat pelaporan kepada board of commitee (dewan bentukan dari beberapa unsur secara independen, di luar CEO), juga sejauh mana akses atas pencatatan, personal, dan properties yang relevan dengan kinerja penugasan, serta ruang lingkup kegiatan internal audit.
| Bersama Libby dan Jim |
Pada minggu kedua, dengan tetap didampingi Jim, hadir di kelas kami Elizabeth MacRae, CGAP, atau biasa dipanggil Libby. Libby tak lain adalah peneliti utama dan penulis utama buku “Internal Audit Capability Model (IA-CM)” for The Public Sector yang menjadi rujukan para internal auditor seluruh dunia. Tak hanya itu, Libby juga pernah berkunjung ke Jakarta, bahkan ke kantor BPKP Pusat, bertemu dengan para pejabat BPKP. Dari Libby kami benar-benar mendapat pengetahuan sekaligus pengalamannya di Indonesia mengenai kondisi internal auditor pemerintah (APIP) di Indonesia yang memang masih jauh panggang dari api dibandingkan dengan hasil riset dan buku yang ditulisnya itu.
Selain kampus di Dublin, kami juga melakukan kunjungan ke Office of Internal Audit (OIA) di Rhodes State Office Tower, Columbus, pada hari ke empat (13 Desember 2012) dan hari ke dua belas (21 Desember 2012).
| Bersama Joe Bell, Inspektur Ohio State. |
Pada kunjungan ke Columbus di hari ke empat itu, di lantai 35 Gedung Rhodes State Office Tower, kami dan masyarakat lain dapat menyaksikan langsung diskusi antara Ketua Audit Commitee Paolo DeMaria didampingi para anggotanya, dengan Inspektur Joe Bell beserta stafnya, tentang temuan dan permasalahan publik yang harus ditindaklanjuti.
Pada kunjungan ke Columbus berikut, tanggal 21 Desember 2012, kami bahkan diberikan kelas khusus dengan pemberian materi langsung oleh Inspektur Joe Bell dan Deputy Director Jim Kennedy.
| Jim Kennedy tengah menerangkan implementasi IA-CM |
Secara jujur, Jim Kennedy menerangkan kondisi kantornya dalam penilaian IA-CM berada pada level empat. Dan semua blok dalam bagan IA-CM, menurut Joe dan Jim, harus diupayakan untuk dipenuhi. “But, of course, every institution is different,” ujar Jim Kennedy. “Karena itu memang diperlukan prioritas. Untuk itu, kami melihat komponen yang dapat membuat efektifnya sebuah proses, dan mencari bentuk key documents-nya. Dalam hal ini, IA-CM menjadi self assessment tool, dengan sebuah kesadaran bahwa proses kunci setiap level akan membawa ke level berikut. Sehingga untuk itu kami harus senantiasa prepare for a self assessment.”
| Bersama Libby dan Joe Bell di lobby Rhodes State Office Tower, Columbus |
Keseriusan mereka menekuni dengan takzim bagan IA-CM itu, terlihat dengan diskusi dalam meeting setiap dua minggu dengan senior manajemen. Kebijakan dan prosedur diriviu setiap tahun, dan ukuran kinerja juga senantiasa dikembangkan. Untuk itu mereka menyediakan apa yang disebut “check list conform to standard”, dan ada petugas yang menguji proses yang sedang berjalan dibandingkan dengan standards yang seharusnya dicapai. Kerja keras, komitmen dan konsistensi, tampak mewarnai pencapaian peningkatan kapabilitas internal audit di pemerintah Ohio State.
![]() |
| Hari terakhir, di depan wisma selama saya di Ohio. |
Dua minggu tak terasa sudah. Ketika kami meninggalkan Ohio pada 24 Desember 2012, terasa ada yang mengisi benak kami. Antara lain, diperlukan Internal Audit Charter antara pimpinan dan inspekturnya, hal yang masih absen dari hiruk pikuk dunia internal audit pemerintah Indonesia. Selain itu, pemberdayaan kepada entitas internal audit sesuai standard dan IA-CM harus pula didukung dengan Audit Commitee yang independen. Selebihnya, adalah masalah SDM yang kompeten dan etika serta integritas yang harus senantiasa dijaga. Namun dari semua itu, peningkatan kapabilitas APIP tentu harus bermula dari keseriusan, itikad dan komitmen pimpinan.
| Di Polaris Mall, Columbus |
Ohio, 24 Desember 2012
.jpg)
.jpg)





.jpg)





