Sabtu, 09 Oktober 2010

AAN ADIWISASTRA: PERJALANAN SEORANG PENJUAL KORAN MENJADI AKUNTAN

Pengalaman hidupnya pernah diwarnai sebagai anak jalanan, pemulung, penjual koran dan tukang parkir. Tetapi takdir telah menjadikan dirinya sebagai pejabat yang dihormati.

Menjadi akuntan, apalagi menjadi seorang pejabat pemerintah di sebuah lembaga pengawasan yang dihormati, sungguh, tidak pernah dibayangkan sebelumnya oleh seorang AanAdiwisastra. Liku hidup perjalanan Direktur di Deputi Pengawasan Keuangan Daerah BPKP yang memasuki masa purnabhaktinya pada 1 Juni 2010, tak pelak lagi, adalah sebuah karunia Allah SWT yang menyeret Aan dalam takdirnya sekarang ini.
Sosok lelaki kelahiran Serang 21 Mei 1950 sebelumnya jauh dari gambaran Aan Adiwisastra sekarang ini. Putera pertama dari H. TB M. Wazie dan Surtini ini tumbuh dan besar di Kampung Kebon Kelapa, Mangga Besar, Jakarta Kota. Masa kecilnya penuh rona.
Bermula dari hobi dan kepiawaiaannya bermain kartu, Aan yang waktu itu pelajar kelas empat SD Tangki 2 Pagi di Mangga Besar ini sampai menggadaikan uang sekolahnya dan melayang dalam taruhan. Berkat laporan kepala sekolah, Aan dihukum keluarga. Namun Aan kabur dari rumah, dan sejak itu ia berkelana selama 5 bulan di Jakarta tanpa tujuan.
Terlantar di jalanan, Aan kecil menjadikan stasiun Mangarai Jakarta Pusat sebagai rumah keduanya. Di sekitar daerah itu, bocah usia sepuluh tahun itu serabutan bekerja: menjadi tukang semir sepatu, mencuri sayuran kecil-kecilan di pasar induk Manggarai, dan memulung beling, aluminium, tembaga dan barang bekas lainnya.
Pengumuman anak hilang di radio dari orang tuanya tak membawa hasil. Di saat yang sama, anak pertama dan satu-satunya lelaki dari tujuh bersaudara ini justru menemukan profesi baru: menjadi penjual koran di daerah elit Menteng, Jakarta Pusat. Pelanggannya antara lain Ali Sastro Amidjojo yang tinggal di bilangan Menteng dan SK Trimurti yang tinggal di Jl. Talang Betutu, Jakarta. Waktu itu mereka pernah memberi Aan baju dan kaos.
Belakangan, Aan juga menjadi tukang parkir di bilangan Blora, Jakarta Pusat, tempat banyak tenda sop kambing yang semuanya memakai label “Pak Kumis”.
Kehidupan jalanan Aan selama lima bulan itu berhenti, ketika pamannya yang tentara menemukannya di stasiun. Ia dibawa kembali pulang ke Mangga Besar.
Pulang ke rumah, Aan gagal naik ke kelas lima SD. Namun setelah pindah sekolah ke Setiabudi akhirnya Aan lulus juga SD-nya di tahun 1964.
Selanjutnya, Aan mengikuti alur hidupnya ke Serang dan Pandeglang bersama pamannya bernama Yusuf Affandi, sampai lulus SMA. Di sisi pamannya yang menjadi Kepala Kantor Agraria Kabupaten Pandeglang itu, bakat terpendam Aan bermunculan: bermain sepak bola dan musik. Di bidang sepak bola, tim sepak bolanya pernah menjadi juara ke dua tingkat nasional. Di bidang musik, ia ternyata piawai memainkan melody. Pamannya yang memiliki darah seni telah menularkannya kepada Aan.
Lulus SMA di tahun 1970, Aan bekerja di perkebunan PTP XI Wilayah Kebun Bojong Datar, Pandeglang. Tugasnya mengawasi para penyadap karet di pagi hari, namun sejatinya tugas yang utama bagi Aan di perusahaan itu adalah sebagai pemain sepak bola dan pemain band.
Bekerja empat bulan di Kebun Bojong Datar, Aan hijrah kembali ke Jakarta di tahun 1971 untuk melanjutkan pendidikan, bergabung kembali ke orang tua. Di Jakarta, Aan mengikuti ujian masuk Universitas Indonesia (UI), Salemba Jakarta. Tidak dinyana, Aan lulus. Ia diterima di Fakultas Kedokteran UI. Sayang, kebahagiaan dan kebanggaan itu tidak berlangsung lama. Aan segera menemui kenyataan pahit, bahwa kondisi keuangan keluarganya tidak cukup kuat untuk membiayai Aan sekolah di UI. Setelah pembuktiannya selama ini teruji, bahwa seorang Aan Adiwisastra ternyata tidak sekadar pemulung, dan bukan hanya tukang koran atau pemain bola semata. Maka, keterbatasan biaya itu adalah sebuah hempasan ke alam nyata yang demikian keras, yang sangat melukai hati Aan sedemikian sakit dan perih.
Namun, Aan tidak berlama-lama terkapar dalam kesedihan. Bangkit melawan frustasi, Aan bergabung dengan kawannya bernama Manu untuk bermain musik di homeband nightclub bernama Tropicana. Dengan rambut gondrongnya, waktu itu ia mengisi acara setiap 3 sampai 4 hari dalam seminggu, pulang sekitar jam dua dinihari bersama para hostess.
Tiga bulan kemudian, seorang pemuda Tapanuli bernama Gultom menunjukkan sebuah pengumuman di sebuah koran mengenai penerimaan mahasiswa di Institut Ilmu Keuangan (IIK, sekarang STAN). Pada bulan April 1971, Aan mengikuti tes, dan ternyata ia diterima di IIK jurusan Akuntansi Departemen Keuangan. Di situlah titik balik nasib suami dari Wuryanti ini.
Diangkat sebagai pegawai negeri terhitung mulai tanggal 1 Maret 1975, Aan memulai karirnya di di DJPKN, Inspektorat Daerah (Irda) II atau sekarang Perwakilan BPKP DKI I. Pada tahun 1977, ia melanjutkan sekolah ke Tk IV IIK, dan lulus Akuntan pada tahun 1980.
Selanjutnya, karir yang ditapakinya membawa Aan Adiwisastra hingga menempati posisi Eselon Dua, yaitu sebagai Kepala Perwakilan BPKP Provinsi Sulawesi Tenggara (2001-2003), sebagai Kepala Perwakilan BPKP Provinsi JawaTengah (2005-2007) dan sebagai Direktur di BPKP Pusat (2003-2005, dan 2008-2010).
Dari pengalaman hidupnya, Aan belajar bahwa lingkungan hidup sangat besar pengaruhnya membentuk karakter. Namun, hal itu tidak berarti ia harus gagal dalam hidup. Menurut bapak tiga anak yaitu Irwan Setiawan, Andi Setiadhi, dan Ardhi Aditiawan ini, kesuksesan tiada yang lestari, dan kegagalan tiada yang abadi.
Memasuki masa purnabhaktinya, Aan punya rencana. “Selain menjadi MC alias Momong Cucu, saya akan menjadi petani ikan. Kemudian, saya juga akan memperdalam ilmu agama Islam, serta menularkan pengalaman kepada teman-teman yang membutuhkan.”
Kenangannya menjadi pemulung, tukang parkir, penjual koran, pemain sepak bola, dan pemain band di sebuah nightclub di Jakarta, menjadi sebuah hikmah yang kini justru terasa manis. Demikian juga kegagalannya yang perih, karena tidak ada biaya untuk kuliah kedokteran meski sempat diterima di Fakultas Kedokteran UI, menjadi cambuk bagi Aan untuk terus maju.
Bagi Aan Adiwisastra, tidak ada yang sia-sia. Semua itu adalah sebuah rahmat, sebuah karunia, yang mendorongnya untuk senantiasa bersyukur atas berkah yang diberikan Allah kepada dirinya. (Dikdik Sadikin)

2 komentar:

  1. Ya memang sekolah kedinasan banyak peserta yang latar belakang ekonomi pas2an, di angkatannya p Aan ada juga orang kampung yg ikut pd orang sbg apa saja msk IIK krn gratis...termsk sy...he..he...he

    BalasHapus
  2. Kang Aan memang hebat, kerja tulus, serius, bagus. Pernah ngobyek bareng di KAP ROR. Salut.

    BalasHapus