Sabtu, 09 Oktober 2010

Mamah Pulang


Di ujung Ramadhan itu, di saat pintu-pintu Surga di langit mulai terbuka, diiringi takbir yang terus-menerus bergema, Mamah pun akhirnya melepas kerinduan dan kecintaannya untuk berjumpa dengan Sang Khalik, tempatnya bermunajat selama ini. Innalillahi wa ina ilaihi rajiun....Mamah: Suprihartin binti Kusumah Brata (Ny. Farid Sudarbo) berpulang ke Rahmatullah pada Kamis 9 September 2010 pk 15.25 WIB, di RS Yadhika Pondok Bambu Jakarta Timur...
Allah tampaknya telah memilihkan waktu terbaik untuk memanggil Mamah: penghujung Bulan Ramadhan menjelang Syawal 1431 H, saat gema takbir mulai bertalu, dan dimakamkan di hari yang mulia, saat dua hari besar bertemu: Jumat dan Iedul Fitri.
Namun demikian, ada yang tetap tak bisa terungkap: dari mana datangnya penyakit itu? Yang datang mengendap-endap, seperti pencuri di malam buta, dan seketika mengambil Mamah yang kami kasihi itu. Padahal, Mamah adalah tipe wanita yang senantiasa menjaga kesehatannya. Mamah tidak sembarang memilih jenis makanan. Ia ketat soal kebersihan makanan dan, bahkan, disiplin dalam hal waktu untuk bersantap.
Demikian juga dengan record uji kesehatan Mamah, selama ini hasilnya selalu baik. Dalam tiga tahun terakhir, dalam kaitan keberangkatan haji yang tertunda dua kali karena persoalan kuota haji, hasil uji kesehatannya yang tiga kali itu selalu prima. Terbukti, sepulangnya haji pada akhir Novermber 2009, Mamah kami sambut dalam kondisi sehat, segar dan ceria.
Tapi, maut tampaknya mulai mengintip. Bermula di pertengahan Bulan Mei 2010 itu. Mamah mengeluhkan kakinya yang terkilir ketika hendak melangkah keluar mobil. Kami membawanya ke tukang pijat. Setelah itu, giliran mata Mamah yang berkunang. Kami membawanya ke Jakarta Eye Center. Belum selesai dengan pengobatan mata, Beliau mengalami strooke ringan. Kami membawanya ke RS Pondok Indah dengan pengobatan dan terapi-terapinya. Namun, pertengahan Juli, hasil rontgen paru-paru Mamah mengagetkan kami: paru-paru sebelah kiri Mamah digenangi air. Beberapa kali Mamah harus menjalani penyedotan air dari paru-parunya itu. Setiap kali disedot, berikutnya, air itu kembali datang mengisi. Entah dari mana.
Banyak obat-obatan medis yang harus Mamah minum, bersamaan dengan obat-obatan herbal. Pengobatan secara agama pun turut dilakukan. Namun demikian, penyedotan air di paru-parunya yang terus menerus, membuat fisik Mamah yang renta di usianya yang melewati 71 tahun tak cukup kuat menanggungnya. Dr Achmad Hudoyo di RSPI tanggal 1 Agustus 2010 mengatakan Mamah terkena kanker paru-paru, dan sudah stadium 3B. Tanggal 26 Agustus 2010, hasil CT Scan menunjukkan kanker paru-paru Mamah sudah sampai ke hati.
Menjelang sepuluh hari terakhir Bulan Ramadhan (akhir Agustus 2010), setelah mencoba beberapa rumah sakit, Mamah akhirnya diopname di RS Yadhika, Pondok Bambu. Kondisi Mamah turun naik. Sempat dua kali kritis. Dan kritis yang ketiga, saat menjelang lebaran, menghentikan perjalanan hidup Mamah. Mamah pun menghebuskan nafasnya yang terakhir, menghadap Illahi Rabbi...
Akhirnya, kami menyadari, Mamah telah menyelesaikan perjalanannya dengan baik. Mamah adalah pribadi yang taat beribadah. Doa Mamah selalu mengiringi baktinya kepada suami dan anak-anaknya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Ibadah haji, sebagai keinginan Mamah sejak lama, telah dipenuhinya. Tunai sudah pengabdiannya kepada Allah di dunia. Cukup sudah bekal Mamah menuju Surga. Dan, tampaknya, penyakit adalah sekadar alasan. Karena dunia yang fana ini membutuhkan hukum kausal: sebuah alasan yang menyebabkan Allah dapat memanggil hamba yang dikasihinya itu...

Mamah Semasa Hidup
Nama aslinya Suprihartin. Tapi entah kenapa, saudara dekatnya, termasuk dua kakaknya memanggilnya dengan sebutan “Ijah”. Panggilan yang kerap kali kami dengar adalah “Ceu Entin” dan “Bi Ijah”. Namun, tetangga lebih mengenalnya sebagai “Bu Farid”.
Lahir di Banjar Ciamis, 10 Januari 1939, wanita dari pasangan Kusumah Brata dan Surtinah ini tumbuh dan besar di Bandung. Di Kota Kembang itu, gadis Suprihartin mendapatkan jodohnya yaitu Farid Mawardi Sudarbo, dan menikah pada tahun 1964. Keduanya kemudian menetap di Jakarta. Semula mereka menempati paviliun di Jalan Lombok Nomor 6 Menteng Jakarta Pusat sampai mendapatkan anak pertama yaitu Dikdik Sadikin pada tahun 1965. Kemudian pada tahun 1966, kami pindah ke Jl. Jenderal Sudirman Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Di sana, bertambah lagi anggota kami: Yoke Octarina (1966), Tenne Permatasari (1968) dan Antje Budiana (1970). Menjelang Papah pensiun, sekitar tahun 1988, kami pindah ke Pondok Kelapa Jakarta Timur.
Mamah dalam pandangan kami, anak-anaknya, adalah sosok Ibu pintar, yang sangat perhatian kepada anak-anak dan sangat berbakti kepada suami. Papah sejak mereka menikah sudah sakit-sakitan. Tetapi berkat pengabdian Mamah yang begitu tulus dan munajatnya kepada Allah, Papah dapat terus bertahan sampai kami selesai kuliah dan bekerja. Papah meninggal tahun 2005.
Mamah juga yang memberikan aura positif dengan energi doa, shalat wajib, shalat tahajud dan shalat dhuhanya, bagi kesehatan, kebahagiaan dan kemajuan anak dan suaminya. Terbukti, semua anaknya diterima kuliah di perguruan tinggi negeri dan kini bekerja dengan posisi yang layak. Kuncinya, antara lain, Mamah selalu mengiringi ujian anak-anaknya dengan shalat dhuha pada jam ujian dilaksanakan. Mamah juga selalu menasehati tentang moral dan agama, serta menauladani ibadah yang dijalaninya dengan disiplin tinggi.
Itu sebabnya, kepergian Mamah meninggalkan kenangan yang sangat mendalam. Ikhlaskan kami ya Allah. Terimalah Ibu kami dalam dekapan dan kasih sayang Mu..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar