Di ruang rapat Warta Pengawasan, siang pertengahan Maret (2008) lalu, Joel menyeruput sayur asem. “Ini enak,” kata orang Philipina itu dalam bahasa Inggris. Lantas dia menyebut dalam bahasa Tagalog sayur di Philipina yang mirip rasanya dengan sayur asem. Joel, atau Jose Luis C. Syquia kelahiran Makati Philipina 25 September 1972 ini adalah konsultan Ausaid. Tentu, kehadiran Joel di kantor BPKP Pusat, meskipun di sana menikmati sayur asem, bukan dalam rangka wisata kuliner. Joel bersama tiga rekannya sedang melakukan review atas pembentukan National Procurement Policy Organization (NPPO) atau Lembaga Pengembangan Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Instansi Pemerintah. Siang itu, Joel baru saja mengadakan diskusi dengan Deputi Pengawasan Perekonomian BPKP, Binsar Simanjuntak.
Pengadaan barang dan jasa pemerintah menurut Joel rawan dengan penyimpangan, dan untuk itu Joel berharap BPKP dapat melakukan pengawasannya. Harapan Joel tidak berlebihan, karena bapak satu anak ini melihat bahwa BPKP memiliki SDM yang paling bagus. Simpulan itu didapat dari penelitian Joel melalui wawancara berbagai instansi pengawasan yang ada di Indonesia.
Joel yang juga menangani program anti korupsi itu memahami upaya-upaya yang dilakukan BPKP untuk melakukan pengawasan melalui strategi preemtif, preventif dan represif. Hanya saja, “Bagaimana Anda dapat mendeliverikan semua produk pengawasan Anda itu kepada stakeholders Anda bila Anda memiliki keterbatasan dalam hal kewenangan?” tanya Joel. Untuk itu, Sarjana Hukum dari Universitas Santo Tomas Fakultas Hukum Sipil, Pilipina tahun 1996, dan S-2 Hukum dari Universitas Pittsburgh USA tahun 1998 itu setuju dengan revitalisasi BPKP. Dengan SDM yang bagus, menurutnya, BPKP juga memiliki kewajiban moral untuk memberdayakan pengawasan di lingkungan intern pemerintah, khususnya bawasda dan itjen.
Pentingnya pengawasan ditegakkan di Indonesia karena Joel melihat bahwa sesungguhnya banyak persamaan antara Indonesia dan Pilipina. Joel meceritakan bagaimana di negaranya ada pejabat negara yang membagi-bagikan uang kepada rakyat agar ia dipilih kembali.
Tak hanya budaya korupsi saja ternyata yang menjadi persamaan antara Indonesia dan Philipina. Bahasa antara keduanya pun banyak yang mirip. Maka Joel bercerita. Sehari sebelumnya, Joel makan di restoran Padang. Ketika memilih lauk, Joel mengambil lauk yang menurut Santa Nainggolan, rekan konsultannya, adalah telur ikan. Setelah selesai disantap, rekannya yang lain, Agam Fachturrachman dari Ausaid, sempat keceplosan, “Itu bukan telur ikan. Tapi otak,” kata Agam dengan bahasa Indonesia. Ternyata, kata “otak” dalam bahasa Indonesia sama dengan bahasa Tagalog Philipina. Itu yang buat Joel terperangah, “What..otak? Brain?”
Joel sempat meringis. Di negaranya, otak sapi tidak lazim diolah jadi makanan. Kalau sebelumnya tahu, barangkali Joel tidak akan menyantap otak. Tetapi, toh, Joel tidak menyesal. Ketelanjuran ternyata membawa hikmah.
“But, it is delicious, is’nt?” tanya Warta Pengawasan. Joel tertawa, “Ya, ya! It’s so delicious!”
Bisa jadi di Philipina, suatu waktu nanti, otak sapi pun jadi makanan mereka. Dan itu, barangkali, karena Joel. (Dikdik Sadikin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar