Sabtu, 09 Oktober 2010

Ani Maharsi: "SPIP Bagai Rumah Makan Padang"

Apakah hubungannya antara Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) dan rumah makan padang? Tanyalah Ani Maharsi.
Kepala Biro Perencanaan Pengawasan BPKP itu bilang, “Sistem pengendalian intern setidaknya seperti rumah makan padang.” Sebagai Tim Satgas PP SPIP Pusat, tentu Ani tidak sedang main-main. Menurut Ani, pengendalian di rumah makan padang itu bagus: cepat, efesien, akurat dan efektif, sekaligus nyaman.
“Berbeda dengan rumah makan jawa tradisional,” ungkap Ani yang asli Jawa. “Di sana, perhitungannya mengandalkan pengakuan pelanggan. Pelanggan makan lima ngaku satu, ya tidak tidak apa-apa. Sistemnya sekadar ikhlas. Kalau pelanggan bohong, berarti makanan yang ditelan itu tidak halal. Ya paling dia sakit perut.”
“Tetapi, tentu, sistem pengendalian yang baik tidak membiarkan pelanggan kemudian sakit perut. Karena, dengan caranya sendiri, rumah makan padang bisa bikin pelanggan sejak awal mereka tidak bisa bohong,” tukas Ani Maharsi. Caranya?
Maka Ani pun menguraikan modus operandi pengendalian intern di warung makan padang. “Di warung makan padang, setiap piring yang dihidangkan hanya berisi dua potong lauk. Berapa pun pelanggan yang mengitari meja. Kalau kemudian ketika para pelanggan makan, lauknya kurang, tinggal diambilkan. Bagi pemilik, capek sedikit tidak masalah, tapi terpantau. Itulah pengendalian,” ungkap Ani Maharsi.
“Selain itu, tiap piring punya corak sendiri. Itu berguna untuk menandai lauk apa yang diwadahi. Antara corak piring untuk wadah ayam goreng dan wadah daun singkong dibedakan. Tanpa harus bertanya, pelayan tahu berapa dan jenis lauk apa yang sudah Anda makan. Anda tidak bakal bisa mengantongi ayam goreng, lantas menaruh daun singkong di atas piring ayam goreng, seraya mengaku hanya makan daun singkong. Tetap saja ketahuan. Anda akan tetap diminta bayar ayam goreng, bukan bayar daun singkong.”
”Karena itu, berapa makanan yang diambil dan harus dibayar oleh pelanggan bisa terdeteksi segera. Pemilik warung makan tidak perlu memelototi langsung pelanggan yang sedang makan. Itu jelas tidak bikin nyaman. Pelanggan juga tidak harus diawasi dengan kamera pengintai semisal CCTV. Itu jelas mahal dan tidak efesien. Tetapi semua yang dimakan pelanggan dapat didata secara akurat
Dengan sistem pengendalian seperti itu, pelayan tinggal mencatat, dan pelanggan pun tinggal bayar. Maka, pelanggan pun nyaman,” tukas Ani Maharsi.
Tentu saja, Ani Maharsi yang ditemui saat pembukaan Diklat SPIP di Banjarmasin pada minggu pertama bulan Juni lalu, tidak hendak menganalisa risiko bahayanya makan rendang di warung makan padang, sesuai SPIP. Apalagi membuat diagnostic assesment SPIP segala di rumah makan padang. Mantan Kepala Pusat Pembinaan JFA BPKP itu sekadar menunjukkan secara nyata dan sederhana bagaimana pengendalian intern yang baik itu bisa dipraktekkan dari hal-hal kecil seperti itu. Dan, seperti biasa, analogi Ani Maharsi selalu mengena. Dan, lucu. (Dikdik Sadikin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar