Selasa, 12 Oktober 2010

It 's Me...!


Aku adalah anak Jakarta keturunan Sunda. Lahir 20 Februari 1965, di Jalan Lombok 6 Menteng Jakarta. Tumbuh besar di bilangan Dukuh Atas, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat.
Sulung dan laki-laki satu-satunya dari empat bersaudara hasil perkawinan Farid dan Suprihartin, aku bersekolah di sekitar Setiabudi, Jakarta Selatan, sejak TK (1970) sampai dengan SMA. Inilah nama-nama sekolahku: TK Puri Asih di Setiabudi VI, SMP Sumbangsih di Setiabudi Tengah, dan SMAN 3 Setiabudi yang lulus di tahun 1983.
Sempat mencicipi Sastra UI tahun 1983-1984, kala kampusnya masih di Rawamangun. Waktu Neno Warisman dan Christine Panjaitan masih kuliah di situ. Setelah itu hijrah ke Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) tahun 1984, jadi Ajun Akuntan tahun 1987 dan dikirim ke Aceh.
Tahun 1991, aku meneruskan kuliah di STAN mengambil gelar akuntan, selesai dan dikirim ke Semarang tahun 1994. Dapet beasiswa kantor untuk S2 di MAP UGM Yogyakarta tahun 2003-2006.
Bekerja di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) sejak 1987, aku mendapat variasi tour of duty mulai sebagai pemeriksa (BPKP Aceh dari 1987 sd 1991, Semarang dari 1994 sd 1999, dan Yogyakarta dari 2003 sd 2006) , Peneliti (Puslitbang BPKP dari 1999 sd 2001, dan Tim Policy Evaluation Pengawasan Keuangan Daerah dari 2007 sd 2009), Pejabat Humas Eselon Empat BPKP (2001 sd 2003), dan Pejabat Struktural Eselon Tiga di Perwakilan BPKP Provinsi Kalsel di Banjarbaru (2009 sd sekarang) .
Dari kecil aku suka menulis dan menggambar. Tulisanku pertama dimuat adalah di majalah Kawanku tahun 1977, waktu aku di kelas 1 SMP. Aku pernah bikin cerpen religi dan dimuat di Majalah Amanah di tahun 1986, juga artikel opini dengan nuansa ekonomi dan politik di Tabloid Kontan di tahun 1991 - 2000, serta harian Kompas (Artikel “Soekarno, Mahathir dan Megawati”, 3 November 2003). Aku juga pernah memegang Majalah Warta Pengawasan sejak 1991 sampai dengan 2003. Apa boleh buat, jadi sering nulis.
Soal menggambar, aku suka bikin karikatur. Pernah juara II Nasional dengan penyelenggara Koperasi Mahasiswa UGM tahun 1986 dan Juara II Nasional dengan penyelenggara UI Depok tahun 1991.
Dengan karikatur, aku juga pernah berkolaborasi dengan Helmy Yahya (Kini presenter kondang). Dia yang menulis, aku yang menggambar. Buku hasil kolaborasi kami itu antara lain "Gelitik Cara ala Amerika" dan serial bacaan remaja “Lintar”. Itu sekitar tahun 1986-1987.
Aku selalu belajar untuk bicara di depan publik. Mungkin kompensasi, karena waktu kecil aku gagap. Waktu SMP dan SMA secara tidak sadar aku terapi diri dengan ikutan grup drama. Di sana ada olah vokal, biar bicara jadi jelas dan teratur. Di STAN pun ketemu Helmy gara-gara ikut grup drama, waktu mentas di malam inaugurasi tahun 1984. Aku malah pernah jadi juara baca puisi lingkup kampus di tahun 1987.
Kemudian, yang nggak pernah nyangka: aku mengajar. Sejak Tahun 2000, tiap Sabtu, aku jadi dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti, Jakarta. Mata kuliah yang aku berikan yaitu Akuntansi Biaya, Akuntansi Manajemen dan Manajemen Biaya. Ini juga kompensasi, karena waktu kuliah rasanya ga pernah bisa ngerti banget. Malah, sebelum diterima mengajar pun aku sudah hampir lupa sama itu mata kuliah. Padahal soknya bergelar akuntan. Bagai dicemplungin ke kolam waktu belum bisa berenang, ya, learning by teaching lah!
Praktis, sejak pindah dinas dari Jakarta ke Banjarbaru pada Agustus 2009, tugas mengajar di Universitas Trisakti aku tinggalkan. Tetapi, mengajar? O, tetep. Kan, tinggal pindah tempat ngajar. Aku mengajar di Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin. Di sana aku jadi Dosen Tetap Pasca Sarjana Jurusan Magister Administrasi Publik (MAP), sejak Februari Tahun 2010. Dan, di Kalimantan itu, soal mengajar ga ada habisnya. Bahkan pekerjaanku sekarang pun banyak terkait dengan mengajar. Karena aku di Banjarmasin sebenarnya dipromosikan jadi Kepala Bidang Akuntabilitas Pemerintah Daerah (Terimakasih kepada beliau-beliau yang telah mempercayai dan memberikan amanah ini untuk saya). Tugas pokok bidangku adalah pemberdayaan Pemda. Supaya mereka bisa berakuntabilitas, seperti bagaimana menyusun laporan keuangan dan membangun sistem kinerja. Jadi sekarang, ya, aku dan stafku banyak mengajari SDM Pemda.
Aku juga instruktur sertifikasi pengadaan barang dan jasa instansi pemerintah. Sertifikasi pengadaan yang aku pegang adalah L4. Ini level sertifikasi yang diakui tanpa dibatasi kadaluwarsanya.
Singkatnya, aku ini indoor type. Model manusia yang lebih senang ngamar. Maksudnya, melakukan pekerjaan di dalam ruangan, seperti menulis, menggambar, mengajar dan sebagainya. Kekuranganku, tentu, banyak. Antara lain, jarang olah raga dan suka makan bakso. Tapi, aku rendah hati dan tidak sombong kok. Beneran.
Bagaimana pun, aku bersyukur dengan apa yang aku terima dari Allah sekarang ini. Aku tumbuh di tengah keluarga yang baik dan Mamah Papah yang menjunjung tinggi pendidikan, dengan adik-adikku Yoke, Tenne dan Antje yang semuanya lulusan perguruan tinggi negeri, bahkan Yoke lulusan S2 Birmingham Inggris. Lalu, aku diberkahi istri yang cantik dan cerdas: yang tercinta Leika Mutiara. Juga anak-anak yang cantik dan cakep serta cerdas: yang tersayang Sheila, Diaz dan Farrel. Lengkap sudah.
Alhamdulillah.

Sabtu, 09 Oktober 2010

Mamah Pulang


Di ujung Ramadhan itu, di saat pintu-pintu Surga di langit mulai terbuka, diiringi takbir yang terus-menerus bergema, Mamah pun akhirnya melepas kerinduan dan kecintaannya untuk berjumpa dengan Sang Khalik, tempatnya bermunajat selama ini. Innalillahi wa ina ilaihi rajiun....Mamah: Suprihartin binti Kusumah Brata (Ny. Farid Sudarbo) berpulang ke Rahmatullah pada Kamis 9 September 2010 pk 15.25 WIB, di RS Yadhika Pondok Bambu Jakarta Timur...
Allah tampaknya telah memilihkan waktu terbaik untuk memanggil Mamah: penghujung Bulan Ramadhan menjelang Syawal 1431 H, saat gema takbir mulai bertalu, dan dimakamkan di hari yang mulia, saat dua hari besar bertemu: Jumat dan Iedul Fitri.
Namun demikian, ada yang tetap tak bisa terungkap: dari mana datangnya penyakit itu? Yang datang mengendap-endap, seperti pencuri di malam buta, dan seketika mengambil Mamah yang kami kasihi itu. Padahal, Mamah adalah tipe wanita yang senantiasa menjaga kesehatannya. Mamah tidak sembarang memilih jenis makanan. Ia ketat soal kebersihan makanan dan, bahkan, disiplin dalam hal waktu untuk bersantap.
Demikian juga dengan record uji kesehatan Mamah, selama ini hasilnya selalu baik. Dalam tiga tahun terakhir, dalam kaitan keberangkatan haji yang tertunda dua kali karena persoalan kuota haji, hasil uji kesehatannya yang tiga kali itu selalu prima. Terbukti, sepulangnya haji pada akhir Novermber 2009, Mamah kami sambut dalam kondisi sehat, segar dan ceria.
Tapi, maut tampaknya mulai mengintip. Bermula di pertengahan Bulan Mei 2010 itu. Mamah mengeluhkan kakinya yang terkilir ketika hendak melangkah keluar mobil. Kami membawanya ke tukang pijat. Setelah itu, giliran mata Mamah yang berkunang. Kami membawanya ke Jakarta Eye Center. Belum selesai dengan pengobatan mata, Beliau mengalami strooke ringan. Kami membawanya ke RS Pondok Indah dengan pengobatan dan terapi-terapinya. Namun, pertengahan Juli, hasil rontgen paru-paru Mamah mengagetkan kami: paru-paru sebelah kiri Mamah digenangi air. Beberapa kali Mamah harus menjalani penyedotan air dari paru-parunya itu. Setiap kali disedot, berikutnya, air itu kembali datang mengisi. Entah dari mana.
Banyak obat-obatan medis yang harus Mamah minum, bersamaan dengan obat-obatan herbal. Pengobatan secara agama pun turut dilakukan. Namun demikian, penyedotan air di paru-parunya yang terus menerus, membuat fisik Mamah yang renta di usianya yang melewati 71 tahun tak cukup kuat menanggungnya. Dr Achmad Hudoyo di RSPI tanggal 1 Agustus 2010 mengatakan Mamah terkena kanker paru-paru, dan sudah stadium 3B. Tanggal 26 Agustus 2010, hasil CT Scan menunjukkan kanker paru-paru Mamah sudah sampai ke hati.
Menjelang sepuluh hari terakhir Bulan Ramadhan (akhir Agustus 2010), setelah mencoba beberapa rumah sakit, Mamah akhirnya diopname di RS Yadhika, Pondok Bambu. Kondisi Mamah turun naik. Sempat dua kali kritis. Dan kritis yang ketiga, saat menjelang lebaran, menghentikan perjalanan hidup Mamah. Mamah pun menghebuskan nafasnya yang terakhir, menghadap Illahi Rabbi...
Akhirnya, kami menyadari, Mamah telah menyelesaikan perjalanannya dengan baik. Mamah adalah pribadi yang taat beribadah. Doa Mamah selalu mengiringi baktinya kepada suami dan anak-anaknya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Ibadah haji, sebagai keinginan Mamah sejak lama, telah dipenuhinya. Tunai sudah pengabdiannya kepada Allah di dunia. Cukup sudah bekal Mamah menuju Surga. Dan, tampaknya, penyakit adalah sekadar alasan. Karena dunia yang fana ini membutuhkan hukum kausal: sebuah alasan yang menyebabkan Allah dapat memanggil hamba yang dikasihinya itu...

Mamah Semasa Hidup
Nama aslinya Suprihartin. Tapi entah kenapa, saudara dekatnya, termasuk dua kakaknya memanggilnya dengan sebutan “Ijah”. Panggilan yang kerap kali kami dengar adalah “Ceu Entin” dan “Bi Ijah”. Namun, tetangga lebih mengenalnya sebagai “Bu Farid”.
Lahir di Banjar Ciamis, 10 Januari 1939, wanita dari pasangan Kusumah Brata dan Surtinah ini tumbuh dan besar di Bandung. Di Kota Kembang itu, gadis Suprihartin mendapatkan jodohnya yaitu Farid Mawardi Sudarbo, dan menikah pada tahun 1964. Keduanya kemudian menetap di Jakarta. Semula mereka menempati paviliun di Jalan Lombok Nomor 6 Menteng Jakarta Pusat sampai mendapatkan anak pertama yaitu Dikdik Sadikin pada tahun 1965. Kemudian pada tahun 1966, kami pindah ke Jl. Jenderal Sudirman Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Di sana, bertambah lagi anggota kami: Yoke Octarina (1966), Tenne Permatasari (1968) dan Antje Budiana (1970). Menjelang Papah pensiun, sekitar tahun 1988, kami pindah ke Pondok Kelapa Jakarta Timur.
Mamah dalam pandangan kami, anak-anaknya, adalah sosok Ibu pintar, yang sangat perhatian kepada anak-anak dan sangat berbakti kepada suami. Papah sejak mereka menikah sudah sakit-sakitan. Tetapi berkat pengabdian Mamah yang begitu tulus dan munajatnya kepada Allah, Papah dapat terus bertahan sampai kami selesai kuliah dan bekerja. Papah meninggal tahun 2005.
Mamah juga yang memberikan aura positif dengan energi doa, shalat wajib, shalat tahajud dan shalat dhuhanya, bagi kesehatan, kebahagiaan dan kemajuan anak dan suaminya. Terbukti, semua anaknya diterima kuliah di perguruan tinggi negeri dan kini bekerja dengan posisi yang layak. Kuncinya, antara lain, Mamah selalu mengiringi ujian anak-anaknya dengan shalat dhuha pada jam ujian dilaksanakan. Mamah juga selalu menasehati tentang moral dan agama, serta menauladani ibadah yang dijalaninya dengan disiplin tinggi.
Itu sebabnya, kepergian Mamah meninggalkan kenangan yang sangat mendalam. Ikhlaskan kami ya Allah. Terimalah Ibu kami dalam dekapan dan kasih sayang Mu..

Ani Maharsi: "SPIP Bagai Rumah Makan Padang"

Apakah hubungannya antara Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) dan rumah makan padang? Tanyalah Ani Maharsi.
Kepala Biro Perencanaan Pengawasan BPKP itu bilang, “Sistem pengendalian intern setidaknya seperti rumah makan padang.” Sebagai Tim Satgas PP SPIP Pusat, tentu Ani tidak sedang main-main. Menurut Ani, pengendalian di rumah makan padang itu bagus: cepat, efesien, akurat dan efektif, sekaligus nyaman.
“Berbeda dengan rumah makan jawa tradisional,” ungkap Ani yang asli Jawa. “Di sana, perhitungannya mengandalkan pengakuan pelanggan. Pelanggan makan lima ngaku satu, ya tidak tidak apa-apa. Sistemnya sekadar ikhlas. Kalau pelanggan bohong, berarti makanan yang ditelan itu tidak halal. Ya paling dia sakit perut.”
“Tetapi, tentu, sistem pengendalian yang baik tidak membiarkan pelanggan kemudian sakit perut. Karena, dengan caranya sendiri, rumah makan padang bisa bikin pelanggan sejak awal mereka tidak bisa bohong,” tukas Ani Maharsi. Caranya?
Maka Ani pun menguraikan modus operandi pengendalian intern di warung makan padang. “Di warung makan padang, setiap piring yang dihidangkan hanya berisi dua potong lauk. Berapa pun pelanggan yang mengitari meja. Kalau kemudian ketika para pelanggan makan, lauknya kurang, tinggal diambilkan. Bagi pemilik, capek sedikit tidak masalah, tapi terpantau. Itulah pengendalian,” ungkap Ani Maharsi.
“Selain itu, tiap piring punya corak sendiri. Itu berguna untuk menandai lauk apa yang diwadahi. Antara corak piring untuk wadah ayam goreng dan wadah daun singkong dibedakan. Tanpa harus bertanya, pelayan tahu berapa dan jenis lauk apa yang sudah Anda makan. Anda tidak bakal bisa mengantongi ayam goreng, lantas menaruh daun singkong di atas piring ayam goreng, seraya mengaku hanya makan daun singkong. Tetap saja ketahuan. Anda akan tetap diminta bayar ayam goreng, bukan bayar daun singkong.”
”Karena itu, berapa makanan yang diambil dan harus dibayar oleh pelanggan bisa terdeteksi segera. Pemilik warung makan tidak perlu memelototi langsung pelanggan yang sedang makan. Itu jelas tidak bikin nyaman. Pelanggan juga tidak harus diawasi dengan kamera pengintai semisal CCTV. Itu jelas mahal dan tidak efesien. Tetapi semua yang dimakan pelanggan dapat didata secara akurat
Dengan sistem pengendalian seperti itu, pelayan tinggal mencatat, dan pelanggan pun tinggal bayar. Maka, pelanggan pun nyaman,” tukas Ani Maharsi.
Tentu saja, Ani Maharsi yang ditemui saat pembukaan Diklat SPIP di Banjarmasin pada minggu pertama bulan Juni lalu, tidak hendak menganalisa risiko bahayanya makan rendang di warung makan padang, sesuai SPIP. Apalagi membuat diagnostic assesment SPIP segala di rumah makan padang. Mantan Kepala Pusat Pembinaan JFA BPKP itu sekadar menunjukkan secara nyata dan sederhana bagaimana pengendalian intern yang baik itu bisa dipraktekkan dari hal-hal kecil seperti itu. Dan, seperti biasa, analogi Ani Maharsi selalu mengena. Dan, lucu. (Dikdik Sadikin)

AAN ADIWISASTRA: PERJALANAN SEORANG PENJUAL KORAN MENJADI AKUNTAN

Pengalaman hidupnya pernah diwarnai sebagai anak jalanan, pemulung, penjual koran dan tukang parkir. Tetapi takdir telah menjadikan dirinya sebagai pejabat yang dihormati.

Menjadi akuntan, apalagi menjadi seorang pejabat pemerintah di sebuah lembaga pengawasan yang dihormati, sungguh, tidak pernah dibayangkan sebelumnya oleh seorang AanAdiwisastra. Liku hidup perjalanan Direktur di Deputi Pengawasan Keuangan Daerah BPKP yang memasuki masa purnabhaktinya pada 1 Juni 2010, tak pelak lagi, adalah sebuah karunia Allah SWT yang menyeret Aan dalam takdirnya sekarang ini.
Sosok lelaki kelahiran Serang 21 Mei 1950 sebelumnya jauh dari gambaran Aan Adiwisastra sekarang ini. Putera pertama dari H. TB M. Wazie dan Surtini ini tumbuh dan besar di Kampung Kebon Kelapa, Mangga Besar, Jakarta Kota. Masa kecilnya penuh rona.
Bermula dari hobi dan kepiawaiaannya bermain kartu, Aan yang waktu itu pelajar kelas empat SD Tangki 2 Pagi di Mangga Besar ini sampai menggadaikan uang sekolahnya dan melayang dalam taruhan. Berkat laporan kepala sekolah, Aan dihukum keluarga. Namun Aan kabur dari rumah, dan sejak itu ia berkelana selama 5 bulan di Jakarta tanpa tujuan.
Terlantar di jalanan, Aan kecil menjadikan stasiun Mangarai Jakarta Pusat sebagai rumah keduanya. Di sekitar daerah itu, bocah usia sepuluh tahun itu serabutan bekerja: menjadi tukang semir sepatu, mencuri sayuran kecil-kecilan di pasar induk Manggarai, dan memulung beling, aluminium, tembaga dan barang bekas lainnya.
Pengumuman anak hilang di radio dari orang tuanya tak membawa hasil. Di saat yang sama, anak pertama dan satu-satunya lelaki dari tujuh bersaudara ini justru menemukan profesi baru: menjadi penjual koran di daerah elit Menteng, Jakarta Pusat. Pelanggannya antara lain Ali Sastro Amidjojo yang tinggal di bilangan Menteng dan SK Trimurti yang tinggal di Jl. Talang Betutu, Jakarta. Waktu itu mereka pernah memberi Aan baju dan kaos.
Belakangan, Aan juga menjadi tukang parkir di bilangan Blora, Jakarta Pusat, tempat banyak tenda sop kambing yang semuanya memakai label “Pak Kumis”.
Kehidupan jalanan Aan selama lima bulan itu berhenti, ketika pamannya yang tentara menemukannya di stasiun. Ia dibawa kembali pulang ke Mangga Besar.
Pulang ke rumah, Aan gagal naik ke kelas lima SD. Namun setelah pindah sekolah ke Setiabudi akhirnya Aan lulus juga SD-nya di tahun 1964.
Selanjutnya, Aan mengikuti alur hidupnya ke Serang dan Pandeglang bersama pamannya bernama Yusuf Affandi, sampai lulus SMA. Di sisi pamannya yang menjadi Kepala Kantor Agraria Kabupaten Pandeglang itu, bakat terpendam Aan bermunculan: bermain sepak bola dan musik. Di bidang sepak bola, tim sepak bolanya pernah menjadi juara ke dua tingkat nasional. Di bidang musik, ia ternyata piawai memainkan melody. Pamannya yang memiliki darah seni telah menularkannya kepada Aan.
Lulus SMA di tahun 1970, Aan bekerja di perkebunan PTP XI Wilayah Kebun Bojong Datar, Pandeglang. Tugasnya mengawasi para penyadap karet di pagi hari, namun sejatinya tugas yang utama bagi Aan di perusahaan itu adalah sebagai pemain sepak bola dan pemain band.
Bekerja empat bulan di Kebun Bojong Datar, Aan hijrah kembali ke Jakarta di tahun 1971 untuk melanjutkan pendidikan, bergabung kembali ke orang tua. Di Jakarta, Aan mengikuti ujian masuk Universitas Indonesia (UI), Salemba Jakarta. Tidak dinyana, Aan lulus. Ia diterima di Fakultas Kedokteran UI. Sayang, kebahagiaan dan kebanggaan itu tidak berlangsung lama. Aan segera menemui kenyataan pahit, bahwa kondisi keuangan keluarganya tidak cukup kuat untuk membiayai Aan sekolah di UI. Setelah pembuktiannya selama ini teruji, bahwa seorang Aan Adiwisastra ternyata tidak sekadar pemulung, dan bukan hanya tukang koran atau pemain bola semata. Maka, keterbatasan biaya itu adalah sebuah hempasan ke alam nyata yang demikian keras, yang sangat melukai hati Aan sedemikian sakit dan perih.
Namun, Aan tidak berlama-lama terkapar dalam kesedihan. Bangkit melawan frustasi, Aan bergabung dengan kawannya bernama Manu untuk bermain musik di homeband nightclub bernama Tropicana. Dengan rambut gondrongnya, waktu itu ia mengisi acara setiap 3 sampai 4 hari dalam seminggu, pulang sekitar jam dua dinihari bersama para hostess.
Tiga bulan kemudian, seorang pemuda Tapanuli bernama Gultom menunjukkan sebuah pengumuman di sebuah koran mengenai penerimaan mahasiswa di Institut Ilmu Keuangan (IIK, sekarang STAN). Pada bulan April 1971, Aan mengikuti tes, dan ternyata ia diterima di IIK jurusan Akuntansi Departemen Keuangan. Di situlah titik balik nasib suami dari Wuryanti ini.
Diangkat sebagai pegawai negeri terhitung mulai tanggal 1 Maret 1975, Aan memulai karirnya di di DJPKN, Inspektorat Daerah (Irda) II atau sekarang Perwakilan BPKP DKI I. Pada tahun 1977, ia melanjutkan sekolah ke Tk IV IIK, dan lulus Akuntan pada tahun 1980.
Selanjutnya, karir yang ditapakinya membawa Aan Adiwisastra hingga menempati posisi Eselon Dua, yaitu sebagai Kepala Perwakilan BPKP Provinsi Sulawesi Tenggara (2001-2003), sebagai Kepala Perwakilan BPKP Provinsi JawaTengah (2005-2007) dan sebagai Direktur di BPKP Pusat (2003-2005, dan 2008-2010).
Dari pengalaman hidupnya, Aan belajar bahwa lingkungan hidup sangat besar pengaruhnya membentuk karakter. Namun, hal itu tidak berarti ia harus gagal dalam hidup. Menurut bapak tiga anak yaitu Irwan Setiawan, Andi Setiadhi, dan Ardhi Aditiawan ini, kesuksesan tiada yang lestari, dan kegagalan tiada yang abadi.
Memasuki masa purnabhaktinya, Aan punya rencana. “Selain menjadi MC alias Momong Cucu, saya akan menjadi petani ikan. Kemudian, saya juga akan memperdalam ilmu agama Islam, serta menularkan pengalaman kepada teman-teman yang membutuhkan.”
Kenangannya menjadi pemulung, tukang parkir, penjual koran, pemain sepak bola, dan pemain band di sebuah nightclub di Jakarta, menjadi sebuah hikmah yang kini justru terasa manis. Demikian juga kegagalannya yang perih, karena tidak ada biaya untuk kuliah kedokteran meski sempat diterima di Fakultas Kedokteran UI, menjadi cambuk bagi Aan untuk terus maju.
Bagi Aan Adiwisastra, tidak ada yang sia-sia. Semua itu adalah sebuah rahmat, sebuah karunia, yang mendorongnya untuk senantiasa bersyukur atas berkah yang diberikan Allah kepada dirinya. (Dikdik Sadikin)

Governance in Singapore



Oleh: Dikdik Sadikin


“We have gone from 3rd to 1st world

in one generation…from almost
nothing, we created something unique.

Succeeded beyond expectations,

at many levels.”
—Lee Hsien Loong
Prime Minister, 2005



“Are you Mister Dikdik?” seorang wanita Cina setengah baya, kecil tapi lincah, menyapa saya dari belakang. Pagi hari tujuh Juli 2009 itu, jam dinding di Bandara Changi Singapura menunjukkan pukul sembilan waktu setempat (atau satu jam lebih cepat dari waktu di Jakarta). Di counter informasi bandar udara yang konon menjiplak habis bandara Boston Amerika, Marrie Lie, wanita itu, menyapa sembari tangannya menggenggam kertas bertuliskan nama saya.
Dalam taksi yang mengantar kami dari Bandara Changi menuju Hotel Albert Court, tempat peserta menginap, saya teringat dengan ucapan Perdana Menteri Singapura Lee Hsian Long bahwa lama perjalanan dari Bandara Changi ke tempat manapun di Singapura, dijamin tidak lebih dari 20 menit. Dengan segala kemudahan yang ada pada infrastruktur dan birokrasi mereka, para pendatang, khususnya para investor, dijamin pemerintah dapat menyelesaikan segala urusannya hanya dalam tempo satu hari.
Adapun Marrie Lie, yang menjemput saya itu, adalah pegawai Minister of Foreigner Affairs (Kementerian Luar Negeri) Pemerintah Singapura. Wanita dengan aksen dan bahasa Inggris yang khas Singapura itu memang tipikal wanita karir Singapura yang efisien dan efektif: Ia hanya dibantu tiga pegawai paruh waktu. Berempat mereka mengurus 23 peserta dari berbagai negara selama dua minggu. Tak kurang resepsionis hotel pun ikut diperkerjakan. Tugasnya memberikan uang allowance kepada peserta. Bahkan, resepsionis hotel pula yang bertugas menghitung kelengkapan jumlah peserta di bus ketika akan diberangkatkan dari hotel di Albert Court Street menuju kampus Civil Service College di Holland Street, setiap pagi dalam dua minggu itu.
Efesiennya lagi, setiap peserta hanya diberikan S$40 per hari atau sekitar Rp280 ribu per hari selama dua minggu (Masih lebih tinggi tarif perjalanan dinas PNS Indonesia), dan ongkos taksi S$25 per jalan untuk dua kali jalan yaitu untuk datang dan pulang, antara hotel dan bandara. Padahal ongkos pesawat sudah ditanggung oleh instansi di masing-masing negara peserta.
Ini cuma satu contoh betapa dalam segala hal Pemerintah Singapura selalu berkalkulasi bak pengusaha Cina pada umumnya: efisien pegawai sekaligus irit ongkos.
Itulah kesan pertama saya setibanya di Singapura sebagai peserta shortcourse of public administration and governance in Singapore selama dua minggu. Sebagai peserta sebuah shortcourse yang dihadiri peserta dari 12 negara itu, jujur, saya cukup bangga. Pasalnya, hanya saya (mewakili Deputi Pengawasan Keuangan Daerah BPKP) dan Arief Tri Hardiyanto (dari Pusdiklat BPKP) yang mereka pilih melalui letter of acception yang di-fax dari Kementrian Luar Negeri Singapura ke kantor masing-masing. Lagipula, setibanya di sana, kami baru mengetahui bahwa kami mewakili bukan saja kantor kami (BPKP), tetapi juga benar-benar mewakili Indonesia. Karena, dalam shortcourse itu, hanya kami lah peserta dari Indonesia, selebihnya peserta dari negara lain.
Hanya saja, kemudian, kebanggaan saya itu agak terganggu ketika Marrie Lie menyebutkan nama-nama negara yang diwakili peserta. Pada umumnya peserta berasal dari negara-negara kecil atau kurang dikenal seperti Kiribati, Sychelless, Maldeves, Fiji Island, Mongolia dan sebagainya. Mengingat beberapa kasus terkait antara Indonesia dan Singapura, pengklasifikasian negara peserta seperti itu menimbulkan pertanyaan di hati saya bagaimana Pemerintah Singapura sesungguhnya memandang Pemerintah Indonesia? Ada memang peserta dari negara yang cukup dikenal seperti Philipina, Mesir dan Cina. Tetapi kejadian beberapa waktu lalu dimana pemerintah Singapura menggunakan lahan wilayah Indonesia untuk latihan perang angkatan militer mereka, menjadikan pengklasifikasian mereka mengenai peserta dari negara-negara kecil dengan Indonesia di dalamnya itu, terus terang, sungguh mengusik rasa kebangsaan saya.
Syukurlah, meskipun banyak peserta dari negara kecil, toh kualitas peserta, apa pun asal negaranya, tidak diragukan lagi. Bat-Otgon Budjav, misalnya, yang mewakili Mongolia, lulusan S2 New York University. Estefania Jois Valente de Sousa dari Angola, ibu muda yang masih ada hubungan saudara dengan Xanana Gusmao, yang begitu smart. Atau Tomwa Baitika Tehumu dari Kiribati ternyata jebolan S2 University of Hawaii.
***
Shortcourse dua minggu di Singapura itu sesungguhnya sebuah model promosi negara mereka. Tetapi pada dasarnya mereka memang layak untuk dipromosikan di samping mereka memang butuh hal itu. “We want to be actractive for the best people to come here,” kata Marrie Lie.
Singapura adalah sebuah negara kota dengan populasi 4,8 juta jiwa (75%-nya permanent resident) dalam wilayah 710 km2 di ujung Semenanjung Malaysia. Pada tahun 1959, Singapura mendapat self-rule dari penjajah Inggris, dan pada tahun 1963 menjadi bagian dari federasi Malaysia. Namun, Singapura keluar dari federasi dan merdeka pada 9 Agustus 1965. Ada video yang ditampilkan betapa emosionalnya Lee Kuan Yew ketika itu. “..we are struggle..!” cetus Lee dalam pidatonya, sembari mengusap air mata di pipi. Air mata Lee tentu tak sekadar kecengengan belaka. Saat itu Lee mewarisi Singapura yang nyaris tidak punya apa-apa, bahkan suplai air yang memadai dan hasil kebun sekalipun. Belum lagi tingginya tingkat pengangguran, kualitas perumahan yang di bawah standar, tingginya kriminalitas, rendahnya skill tenaga kerja, dan rendahnya ekonomi domestik.
Shahrill AJ, keturunan Cina dan Melayu, yang menjadi widyaiswara shortcourse itu, mengatakan bahwa dalam kondisi yang paling buruk sekali pun pemimpin Singapura waktu itu tetap berpikir positif. Mereka tidak terpaku dengan “apa yang tidak kita miliki”, tetapi “apa yang telah kita miliki”. Yang mereka miliki adalah lokasi yang strategis dan masyarakatnya yang memiliki etos kerja yang tinggi. Dengan modal itu, Singapura maju pesat. Dari tahun 1965 ke tahun 2008 dari populasi 1,887 juta menjadi 4,839 juta penduduk, GDP (at Current Market Price) dari S$2.9 triliun berkembang menjadi S$257 triliun, sementara per Capita GDP berkembang dari S$1,567 menjadi S$53,192. Dalam hal motivasi kerja, menurut IMD World Competitiveness Report 2008, Singapura ditempatkan sebagai dalam ranking pertama di Asia dan ketiga di seluruh dunia. Dan pada tahun 2009, Singapura menjadi tempat yang paling mudah di dunia dalam menjalankan bisnis (World’s Easiest Place to do Business: Ranked No.1, The World Bank: Doing Business 2009 Report.). Ada pun tingkat pengangguran di Singapura menurun drastis dari 8 ~ 9% di tahun 1965, menjadi tinggal 2,3% di tahun 2008.
***
Pemerintah adalah lokomotif kemajuan itu. Bahkan swasta di Singapura pun dipimpin pemerintah. Karena itu, pegawai pemerintah (PNS) Singapura adalah pegawai pilihan, terbaik dari SDM yang ada di Singapura. Sebagai founding father, Lee Kuan Yew paham bahwa pelayanan pemerintah kepada publik tak sekadar persoalan pengabdian tanpa pamrih. Lee pada masanya menegaskan, ”Saya tidak bisa menjamin bahwa penerus saya di kemudian hari memiliki kesediaan berkorban seperti generasi saya....” Karena itu, secara rasional, pemerintahnya membuat sistem penggajian yang mendorong kinerja. Rekrutmen pegawai negeri dilakukan dengan penelusuran pemerintah kepada mereka yang terbaik sejak mereka duduk di bangku kuliah. PNS digaji dengan standar swasta, dengan tambahan bonus untuk kinerja di atas rata-rata. Bonus dua kali itu untuk kinerja yang standar. Performance di atas standar diberi bonus bisa sampai lima kali gaji. Bahkan kondisi ekonomi negara menjadi indikator bagi bonus PNS. Misalnya, bila tingkat pendapatan domestik bruto (PDB) nasional meningkat, maka ada bonus yang diberikan kepada PNS dan masyarakatnya ke dalam tabungan masing-masing dalam bentuk program Central Providen Fund (CPF). Setelah tidak bekerja lagi sebagai PNS pun, kesejahteraan mereka tetap terjamin karena CPF ini jauh lebih menguntungkan dari sekadar program pensiun, yang juga meliputi asuransi kesehatan dan perumahan.
***
Untuk memenuhi kebutuhan penggajian PNS secara fleksible itu, sistem penganggaran pun tentu harus luwes sekaligus harus bisa dipertanggungjawabkan. Sejak tahun 1978 mereka sudah meninggalkan Line Item Budgeting. Sekarang mereka menggunakan sistem anggaran yang dinamakan Budget Management Framework. Tekanannya adalah mencapai nilai dari uang yang dikeluarkan, value-for-money. Dari sisi auditnya pun ada yang disebut audit value for money. Audit ini menekankan seberapa besar nilai yang dihasilkan dari sejumlah pengeluaran uang. Bukan sekadar seberapa jauh kepatuhan kepada prosedur, meskipun boros sekalipun.
Berbeda dengan model anggaran kita yang kalau tidak habis tahun ini kemudian tahun depannya dipotong, Singapura justru menekankan agar anggaran bisa dihemat dan karena itu harus ada surplus. Chen Shian Jan, akuntan pemerintah yang mengajari kami, mengatakan bahwa dengan anggaran surplus itu maka akan ada cadangan, dan karena itu pemerintah bisa investasi untuk menghasilkan lebih banyak revenue. Dengan meningkatnya revenue, maka menguat pula Singapore Dollar.
Adapun besarnya penghasilan yang diterima PNS tampaknya setimpal dengan manfaat yang diterima masyarakat. Nailul Hafiz, Associate Trainer CSP, menerangkan bahwa internet menjadi andalan pelayanan pemerintah kepada masyarakat. Saat ini, ada lebih 1600 jenis jasa pelayanan pemerintah yang dilakukan lewat internet. Warga tinggal membuka situs pemerintah dan mengajukan jenis pelayanan yang diinginkan, mengisi formulir antara lain nomor penduduk, sampai dengan pembayarannya melalui kartu kredit. Satu hari dijamin selesai, dokumen seperti paspor akan dikirimkan via jasa pengiriman. Dari data statistik, dalam satu bulan jumlah berbagai dokumen selesai itu mencapai sekitar 24 juta output! Artinya, dalam setiap hitungan detik, selalu ada jasa pelayanan pemerintah yang dipenuhi dan diberikan kepada warganya. Tidak cukup sampai di situ, Pemerintah Singapura juga menantang warganya untuk dapat memberikan ide yang cemerlang di bidang pelayanan publik dengan imbalan S$25ribu per ide.
Itu sebabnya, menggaji mahal PNS menjadi tidak mubazir. Karena di lihat dari sisi price per unit output, penghasilan PNS Singapura menjadi lebih murah ketimbang PNS kita. Tetapi dengan kumulatif penghasilan yang bagus, PNS Singapura tak perlu korupsi. Apalagi ada Corrupt Practices Investigation Bureau (CPIB) semacam KPK di Indonesia, dengan posisi di bawah Prime Minister’s Office, yang senantiasa memantau dan bertindak jika terjadi KKN. Ada juga lembaga pengawasan di bawah Menteri Keuangan dengan nama Accountant General’s Department, yang selalu aktif melakukan pengawasan keuangan dengan hasilnya diumumkan kepada publik via website pemerintah.
Tak heran, data dari Corruption Per­ception Index (CPI), yang diterbitkan Transparency International setiap tahun, menunjukkan Singapura termasuk negara paling bersih dari korupsi bersama sejumlah ne­gara Skandinavia. Tahun 2005, misalnya, survei Transparency International me­nempatkan Singapura sebagai negara no­mor lima paling bersih dengan score 9,4, dalam rentang score antara 0-10, angka 10 untuk negara zero corruption dan angka 0 untuk negara paling korup. Maka Singapura pun menjadi pusat keuangan dan bisnis regional yang maju pesat, hadir sebagai saingan baru bagi pusat keuangan mapan seperti Hongkong dan Swiss.
***
Namun di atas semua itu, me­narik membaca tu­lisan Netty Ismail, Morgan Stanley's Quit After Si­ngapore E-Mail (Bloomberg, edisi 5 Oktober 2006). Dalam artikel itu dijelaskan, Chief Economist Andy Xie yang telah bekerja sekitar sem­bilan tahun pada Mor­gan Stanley terpaksa atau dipaksa mundur karena sebuah e-mail in­ternal yang amat kritis terhadap keberhasilan Singapura yang menu­rut Andy Xie berasal dari uang haram para pejabat dan pengusaha Indo­nesia yang dicuci di Si­ngapura. "Indonesia has no money. So Singapore isn't doing well", kata Andy Xie dalam salah satu e-ma­il-nya.
Maka, menurut Todung Mulya Lubis (Kompas, 2 November 2006), Singapura sebetulnya mendulang sukses dari uang-uang haram hasil penja­rahan uang negara Indonesia yang dila­kukan pejabat dan pengusaha tak ber­tanggung jawab. Tidak heran ba­nyak gedung, apartemen, dan kantor yang merupakan investasi orang-orang Indo­nesia yang oleh pemerintah Singapura diberikan banyak kemudahan, termasuk pajak dan izin tinggal (permanent resi­dence), bahkan dalam beberapa kasus di­beri kewarganegaraan Singapura. Bebe­rapa pengusaha Indonesia diketahui me­miliki status warga negara Singapura. Me­reka lalu menjadi untouchables karena bukan lagi warga negara Indonesia. Dan itu bukan hal yang sulit. Singapura hanya setengah jam terbang (seha­rusnya satu jam lebih sedikit) dari Jakarta, atau 45 menit dengan ferry dari Batam. Dan, yang terpenting, Si­ngapura tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan Indonesia. Kasus Anggoro yang kabur ke Singapura bisa menjadi contoh kasus paling anyar di republik ini.
Lebih dari itu, jika melihat hasil Bribe Payers Index 2006 yang diterbitkan Trans­parency International terlihat para peng­usaha Singapura juga melakukan penyuapan dalam bisnisnya di luar negeri meski tidak separah pengusaha China, India, Ru­sia, dan Brasil, misalnya. Intinya adalah, di negeri lain boleh kotor, tetapi kebersihan di negeri sendiri harus dipelihara. Biarlah korupsi terjadi di negara lain, yang penting bukan di Singapura.
Ketika mengunjungi kantor CPIB (KPK ala Singapura), saya sampaikan kepada pejabat anti korupsi di sana bahwa hal itu tidak menggambarkan komitmen kolektif untuk bersama-sama membersihkan dunia dari korupsi yang diyakini sebagai ke­jahatan global.
Waktu itu memang Anggoro belum lagi kabur ke Singapura, dan Polisi kita belum lagi menangkap petinggi KPK yang mencoba menangkal Anggoro. Tetapi dari situ, saya jadi teringat dengan nasihat Aa Gym, “Mulailah dari diri dan mulai hari ini”. Singapura tidak mungkin bisa menerima harta hasil korupsi dari Indonesia kalau di Indonesia sendiri kesempatan buat korupsi itu tidak terbuka lebar. Tanpa mengoreksi diri dari sisi governance, pelayanan publik dan korupsinya itu, Indonesia bakal sulit untuk maju. Dengan kata lain, jangan sampai Indo­nesia terus terpuruk sebagai "paria" di antara negara-negara Asia yang sedang berlomba maju.

Jose Luis C. Syquia: “DELICIOUS!”

Di ruang rapat Warta Pengawasan, siang pertengahan Maret (2008) lalu, Joel menyeruput sayur asem. “Ini enak,” kata orang Philipina itu dalam bahasa Inggris. Lantas dia menyebut dalam bahasa Tagalog sayur di Philipina yang mirip rasanya dengan sayur asem. Joel, atau Jose Luis C. Syquia kelahiran Makati Philipina 25 September 1972 ini adalah konsultan Ausaid. Tentu, kehadiran Joel di kantor BPKP Pusat, meskipun di sana menikmati sayur asem, bukan dalam rangka wisata kuliner. Joel bersama tiga rekannya sedang melakukan review atas pembentukan National Procurement Policy Organization (NPPO) atau Lembaga Pengembangan Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Instansi Pemerintah. Siang itu, Joel baru saja mengadakan diskusi dengan Deputi Pengawasan Perekonomian BPKP, Binsar Simanjuntak.
Pengadaan barang dan jasa pemerintah menurut Joel rawan dengan penyimpangan, dan untuk itu Joel berharap BPKP dapat melakukan pengawasannya. Harapan Joel tidak berlebihan, karena bapak satu anak ini melihat bahwa BPKP memiliki SDM yang paling bagus. Simpulan itu didapat dari penelitian Joel melalui wawancara berbagai instansi pengawasan yang ada di Indonesia.
Joel yang juga menangani program anti korupsi itu memahami upaya-upaya yang dilakukan BPKP untuk melakukan pengawasan melalui strategi preemtif, preventif dan represif. Hanya saja, “Bagaimana Anda dapat mendeliverikan semua produk pengawasan Anda itu kepada stakeholders Anda bila Anda memiliki keterbatasan dalam hal kewenangan?” tanya Joel. Untuk itu, Sarjana Hukum dari Universitas Santo Tomas Fakultas Hukum Sipil, Pilipina tahun 1996, dan S-2 Hukum dari Universitas Pittsburgh USA tahun 1998 itu setuju dengan revitalisasi BPKP. Dengan SDM yang bagus, menurutnya, BPKP juga memiliki kewajiban moral untuk memberdayakan pengawasan di lingkungan intern pemerintah, khususnya bawasda dan itjen.
Pentingnya pengawasan ditegakkan di Indonesia karena Joel melihat bahwa sesungguhnya banyak persamaan antara Indonesia dan Pilipina. Joel meceritakan bagaimana di negaranya ada pejabat negara yang membagi-bagikan uang kepada rakyat agar ia dipilih kembali.
Tak hanya budaya korupsi saja ternyata yang menjadi persamaan antara Indonesia dan Philipina. Bahasa antara keduanya pun banyak yang mirip. Maka Joel bercerita. Sehari sebelumnya, Joel makan di restoran Padang. Ketika memilih lauk, Joel mengambil lauk yang menurut Santa Nainggolan, rekan konsultannya, adalah telur ikan. Setelah selesai disantap, rekannya yang lain, Agam Fachturrachman dari Ausaid, sempat keceplosan, “Itu bukan telur ikan. Tapi otak,” kata Agam dengan bahasa Indonesia. Ternyata, kata “otak” dalam bahasa Indonesia sama dengan bahasa Tagalog Philipina. Itu yang buat Joel terperangah, “What..otak? Brain?”
Joel sempat meringis. Di negaranya, otak sapi tidak lazim diolah jadi makanan. Kalau sebelumnya tahu, barangkali Joel tidak akan menyantap otak. Tetapi, toh, Joel tidak menyesal. Ketelanjuran ternyata membawa hikmah.
“But, it is delicious, is’nt?” tanya Warta Pengawasan. Joel tertawa, “Ya, ya! It’s so delicious!”
Bisa jadi di Philipina, suatu waktu nanti, otak sapi pun jadi makanan mereka. Dan itu, barangkali, karena Joel. (Dikdik Sadikin)