Ael ingin ikut ke Amerika.
Demikian anak ku lima tahun itu bilang.
Dan aku tidak tahu mesti bilang apa.
Demikian anak ku lima tahun itu bilang.
Dan aku tidak tahu mesti bilang apa.
Karena akan naif kalau aku bicara soal jarak yang jauh, ongkos yang mahal, dan pengurusan dokumen yg tak mudah kepada anak TK itu.
Apalagi kalau harus menjelaskan tentang training Internal Audit Capability Model yang harus aku ikuti selama dua minggu sejak 8 Desember di sana, yang jelas bukan konsumsi anak balita.
Tapi Ael ingin ikut ke Amerika.
Siang tadi, sementara aku membeli topi penghangat kepala, Ael mencobanya. Bergaya di depan kaca.
Seolah ia memang benar-benar akan berangkat ke negeri Paman Sam itu.
Ketika aku bilang di sana lagi musim dingin, dan salju jatuh dimana-mana,
Tapi Ael ingin ikut ke Amerika.
Siang tadi, sementara aku membeli topi penghangat kepala, Ael mencobanya. Bergaya di depan kaca.
Seolah ia memang benar-benar akan berangkat ke negeri Paman Sam itu.
Ketika aku bilang di sana lagi musim dingin, dan salju jatuh dimana-mana,
Ael malah tambah ingin.
Ael mungkin tak tahu. Dinginnya Columbus, Ohio,
Ael mungkin tak tahu. Dinginnya Columbus, Ohio,
lebih dingin dari Ciwidey tempat liburan kami kemarin.
Tapi mungkin juga Ael tak mau tahu.
Sampai malam larut, Ael masih bilang ingin ikut ke Amerika.
Sampai kantuk mengalahkannya, Ael dalam terpejam malah bisa bermimpi.
Tapi mungkin juga Ael tak mau tahu.
Sampai malam larut, Ael masih bilang ingin ikut ke Amerika.
Sampai kantuk mengalahkannya, Ael dalam terpejam malah bisa bermimpi.
Tentang Amerika, tentang dingin dan saljunya.
Aku hanya bisa memandangi wajah polos yg tengah damai dalam nyenyak,
Aku hanya bisa memandangi wajah polos yg tengah damai dalam nyenyak,
dalam mimpi indahnya itu.
"Suatu saat, nak," ujar batinku. "Suatu saat, ketika dewasa kelak,
"Suatu saat, nak," ujar batinku. "Suatu saat, ketika dewasa kelak,
kau akan melebihi ayahmu.
Bukan saja sekadar mendatangi Columbus,
tapi juga mengunjungi seluruh kota di Amerika.
Bahkan mungkin menjelajah seluruh pelosok dunia.
Ayah percaya itu."
Dalam terpejam, Ael beringsut. Mendekap guling kecilnya.
Kemudian ada genangan basah di keningnya.
Dalam terpejam, Ael beringsut. Mendekap guling kecilnya.
Kemudian ada genangan basah di keningnya.
Bukan karena salju, tentu. Tetapi karena air mataku.
Yang jatuh menetes hangat dan segera kukecup kembali.
Yang jatuh menetes hangat dan segera kukecup kembali.
(November 2012)

