Kamis, 02 Agustus 2012

Bertemu Sultan Palembang


Sultan Palembang datang ke kantor Perwakilan BPKP Sumsel. Ada misi yang disampaikan tentang pengawasan.


"BPKP dulu namanya menyeramkan. Tapi bersyukurlah kini ia menjadi mitra, yang secara bersama menegakkan pengawasan...." demikian ucapan itu keluar dari seorang Raja pada Selasa sore 30 Agustus 2012 di kantor BPKP Perwakilan Sumsel, Palembang.

Raja? Tentu saja ini bukan adegan ketoprak Mataram. Atau, dalam versi Palembang dikenal dengan pementasan tradisional legendaris Dul Muluk. Tapi benar-benar yang datang adalah aseli Raja. Dialah Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin, yang berdasarkan silsilah Sultan Sultan Palembang Darussalam, Beliau keturunan dari tiga Sultan yang pernah berkuasa di Palembang.

Di depan para pegawai dan purnabhakti BPKP Sumsel, Yang Mulia Sultan memperkenalkan diri seraya menyampaikan pandangannya.

"Pengawasan dan pemecahan permasalahan dari hasil pengawasan di ranah publik seharusnya tidak hanya dihadapi dengan infrastruktur birokrasi semata," ujar Yang Mulia Sultan. "Tetapi, saya yakin, persoalan kemasyarakatan akan lebih lancar dan berjalan tanpa gejolak, apabila local genius  atau kearifan lokal dan budaya adat setempat turut serta difungsikan.. Potensi ini lah yang seringkali terlupakan untuk mendapat tempat dalam konstelasi pengawasan dan pemecahan permasalahan tersebut."

Kepala Perwakilan BPKP Sumsel IGB Surya Negara menyambut baik kesediaan Yang Mulia Sultan untuk hadir di kantornya sore itu. Dikatakan, pelestarian budaya lokal, telah digagas di kantornya. Terbukti pada saat HUT Ke-29 BPKP pada bulan Mei lalu, BPKP Perwakilan Sumsel telah berinsiatif untuk menyelenggarakan pementasan Dul Muluk, yang merupakan teater rakyat legendaris. Bagian dari budaya lokal yang nyaris mulai ditinggalkan oleh generasi muda.

Sebagai rasa salutnya Sultan kepada Kaper BPKP Sumsel yang dianggapnya telah turut menjaga kekayaan tradisi Palembang, maka pada acara itu Sultan menyematkan Tanda Kerajaan Kesultanan Palembang pada baju koko yang dipakai Kaper. "Dengan Tanda Kerajaan ini, maka Pak Surya telah menjadi kerabat kami, yang tak akan lekang sampai akhir hayat," demikian dinyatakan Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin.  

Pada kesempatan kali itu pun hadir para pemain Teater Tradisi Legendaris "Dul Muluk", yang pernah turut serta memeriahkan acara HUT Ke-29 BPKP. 
Di hadapan Sultan, kepada pimpinan teater Dul Muluk Johar Saad, Kepala Perwakilan BPKP IGB Surya Negara menyerahkan bantuan bagi pengembangan teater tradisional tersebut. Para pemain Dul Muluk yang sebagian besar masih remaja itu bahkan diberi kesempatan berbincang dan bersalaman dengan Sultan, yang selama ini mereka perankan di panggung. "Yang Mulia Sultan, perkenalkan: aku yang memerankan lakon 'pangeran' di panggung Dul Muluk... Tidak menduga... Senang bertemu dengan Sultan yang sesungguhnya," ujar seorang pemain.


Menjelang berbuka puasa, acara diisi dengan siraman rohani Islam, dan pisah sambut pegawai.

Pegawai yang dilepas pada acara itu adalah Erwin Ak, MBA (Kabid IPP yang promosi eselon dua ke UP4B di Papua Barat), Yudi Adriansyah (promosi sebagai Kasubag Prolap ke BPKP NAD) dan Drs. Alamsyah (pensiun). Sedangkan yang disambut adalah Arius Lopen (dari Lampung), Ary Wibowo (dari Lampung), Redyan Dedy Umrien (dari Batam), Parpunguan Siregar (dari Bengkulu). 
 

Acara ditutup dengan berbuka puasa bersama dan Shalat Maghrib berjamaah.

Sungguh, sebuah sore yang indah: acaranya padat, bermutu dan penuh hikmah.. Sebuah berkah di Bulan Ramadhan!
Semoga pengalaman itu dapat memperkaya khasanah dinamika kejayaan BPKP di masa datang... Aamiin.

2 komentar:

  1. oh ini si surya negara yang menzalimi bapak Sugijanto itu ya?

    http://www.pensiunanbpkp.com/harus-berapa-lama-lagi-bpkp-menzalimi-pensiunannya.html

    BalasHapus
  2. Assalamu'alaikum , Tuan Dikdik
    Malam ini , I thought it's a miracle that I'm not looking for you but I found it in your blog.

    Well , minal aidin wal faizin.
    Although we are no longer friends as you show on your FB. But I still tried to remember the atmosphere of Bandung the other day.

    Adalah menarik membangun hubungan elegan dengan Kesultanan Palembang , apalagi dalam perspektif Islami.

    Insya Allah , Kami dapat menghubungi Ajengan Sultan dari jalur Habaib.

    BalasHapus