Rabu, 19 Desember 2012

Berangkat ke Amerika

"JI.. RO..LU ..PAT... MO..!" Suara orang menghitung dalam bahasa Jawa itu (Ji, siji= satu, ro, loro = dua, lu, telu= tiga, dst) terdengar bukan di tengah-tegah keramaian Terminal Terboyo Semarang. Tetapi di tengah hingar bingar kesibukan Bandara JFK, New York, Amerika Serikat. Saat itu waktu setempat menunjukkan pukul setengah lima sore Ahad 9 Desember 2012. Adi Widodo, salah seorang peserta, sedang menghitung kelengkapan seluruh peserta yang berjumlah 14 peserta. 

Kami sudah melalui pemeriksaan pabean waktu itu. Pabean bandara JFK New York memang tampak cukup ketat, tapi tak seluruh peserta dicek mendetail. Ada peserta yang harus sampai difoto dan diambil sidik jari, tapi ada juga yang hanya dicek kelengkapan dokumennya saja dan selesai dengan cepat. Yang jelas, waktu itu Adi cukup puas. Pesertanya lengkap, demikian juga dengan bagasinya.

Lamanya waktu yang kami habiskan untuk birokrasi bandara itu, karena kami ditempatkan pada antrian yang salah. Seharusnya jalur diplomatik, karena kami menggunakan paspor dinas. Tapi officer waktu itu tidak punya pilihan karena 28 jalur yang ada sudah demikian penuh. Maklum, Menjelang natal adalah waktu sibuk (peak season) bagi bandara.

Bandara New York memang menjadi gerbang kami memasuki Amerika setelah menikmati penerbangan sekitar 18 jam (termasuk transit di KL dan Amsterdam) mengitari hampir setengah lingkaran dunia: Jakarta-Amsterdam-New York.

***

Dari Cengkareng, pesawat KLM mengangkut kami sekitar pukul setengah sembilan malam. Kami transit setengah jam di Kuala Lumpur. Sempat tersenyum ketika ada plang "tuntutan bagasi', maksudnya "claim luggage". Apa salahnya bagasi sampai harus dituntut? Toh temen saya membalas, sama saja dengan menuntut ilmu. Apa salahnya ilmu sampai harus dituntut?

Dari Kuala Lumpur, kami ganti pesawat, meski masih KLM, ke Amsterdam. Transit di Bandara Schiphol Amsterdam, selama enam jam. Masih sempat makan siang, melihat museum di dalam bandara. Dan untuk keperluan itu harus menukarkan sebagian uang kami dengan euro. Barulah, setelah itu terbang ke Amerika, dengan gerbangnya: New York.

***  

Hanya saja di New York, kami harus puas dengan menikmati bandaranya saja. Karena waktu yang digunakan untuk pemeriksaan pabean, pengambilan bagasi, mengurus transit dan memasukkan kembali bagasi, serta perpindahan ke gedung lain dalam area bandara dengan bus khusus ke tempat pesawat Delta yang akan membawa kami ke Columbus, memakan waktu yang tidak sebentar.  

Sekitar jam setengah delapan malam, kami pun terbang meninggalkan New York dengan pesawat kecil dari maskapai Delta. Kami tiba di Bandara Columbus, Ohio, pada pukul setengah sepuluh malam waktu setempat.

Beruntung ada warga Indonesia yang demikian ramah menjemput kami. Ada Pak Abas, Pak Kimi, Pak Bimo dan Monang.

Kami tak langsung ke hotel, tapi dijamu terlebih dahulu di rumah Pak Abas. Makan malam yang ramah, sungguh sebuah welcoming party yang melegakan. Baru setelah itu kami diantar  ke hotel.

Sebuah awal yang baik, dengan sebuah keramahan yang luar biasa. Dijemput, dijamu, dan diantar sampai ke hotel. Bukan main.

***

Rabu, 28 November 2012

Ael Ingin Ikut ke Amerika

Ael ingin ikut ke Amerika.

Demikian anak ku lima tahun itu bilang.
Dan aku tidak tahu mesti bilang apa.
Karena akan naif kalau aku bicara soal jarak yang jauh, ongkos yang mahal, dan pengurusan dokumen yg tak mudah kepada anak TK itu.
Apalagi kalau harus menjelaskan tentang training Internal Audit Capability Model yang harus aku ikuti selama dua minggu sejak 8 Desember di sana, yang jelas bukan konsumsi anak balita.

Tapi Ael ingin ikut ke Amerika.

Siang tadi, sementara aku membeli topi penghangat kepala, Ael mencobanya.
Bergaya di depan kaca.
Seolah ia memang benar-benar akan berangkat ke negeri Paman Sam itu.

Ketika aku bilang di sana lagi musim dingin, dan salju jatuh dimana-mana,
Ael malah tambah ingin.

Ael mungkin tak tahu. Dinginnya Columbus, Ohio,
lebih dingin dari Ciwidey tempat liburan kami kemarin.

Tapi mungkin juga Ael tak mau tahu.

Sampai malam larut, Ael masih bilang ingin ikut ke Amerika.

Sampai kantuk mengalahkannya, Ael dalam terpejam malah bisa bermimpi.
Tentang Amerika, tentang dingin dan saljunya.

Aku hanya bisa memandangi wajah polos yg tengah damai dalam nyenyak,
dalam mimpi indahnya itu.

"Suatu saat, nak," ujar batinku. "Suatu saat, ketika dewasa kelak,
kau akan melebihi ayahmu.
Bukan saja sekadar mendatangi Columbus,
tapi juga mengunjungi seluruh kota di Amerika.
Bahkan mungkin menjelajah seluruh pelosok dunia.
Ayah percaya itu."

Dalam terpejam, Ael beringsut. Mendekap guling kecilnya.

Kemudian ada genangan basah di keningnya.
Bukan karena salju, tentu. Tetapi karena air mataku.
Yang jatuh menetes hangat
dan segera kukecup kembali. 

(November 2012)

Selasa, 13 November 2012

Ultimatum Deputi Pencegahan Korupsi KPK

"Kalau ada perbuatan Anda di masa lalu yang kurang baik, stop kebiasaan buruk itu. Ubah. Kalau masih terus juga, kalau ada apa-apa, jangan telpon saya. Saya sendiri tidak bisa menolong diri sendiri kalau saya bersalah," demikian ultimatum disampaikan Iswan Elmi, Deputi Bidang Pencegahan Korupsi KPK di hadapan pegawai BPKP Perwakilan Sumsel pada Rabu 31 Oktober lalu di Palembang.

Menurut Iswan Elmi, korupsi dilakukan oleh mereka yang memiliki intelektual dan kemampuan yang cukup tinggi. Tapi berkah dari Tuhan itu justru digunakan untuk menzalimi hak rakyat. "Listrik, misalnya, di jaman sekarang ini bukanlah hal yang sulit. Apalagi di Indonesia yang memiliki berbagai ketersediaan sumber daya alam yang melimpah dengan berbagai alternatif sumber dan SDM ahli yang tidak sedikit. Namun kita melihat kenyataannya: 35 persen atau 84 juta penduduk Indonesia masih dirundung kegelapan setiap harinya.. Korupsi menjadikan hak rakyat terabaikan," ujar Iswan yang tak lain pegawai BPKP yang dipekerjakan di KPK itu.

Dalam kondisi itu pun, masih ada yang tidak peduli akan nasib rakyat. Menurut Iswan, sebelum pergi ke Palembang, dirinya sempat membaca hasil transkrip telepon (sadapan) dari stafnya. Bahkan saking tidak percayanya dengan transkrip itu, didengarnya lagi bunyi percakapan itu berupa desakan anggota yang terhormat untuk menagih direksi BUMN sejumlah milyaran. Hal seperti ini bukan saja membuatnya sedih, tapi juga muak.
"Saya janji..," ujar Iswan geram, "Saya janji untuk mengungkap kasus dari orang yang kita sebut terhormat itu. Saya janji untuk membuktikan bahwa dengan kelakukannya itu: dia bukan orang terhormat..!"

Iswan Elmi yang didampingi Deputi Pengawasan Keuangan Daerah BPKP, Iman Bastari dan Kepala Perwakilan BPKP Provinsi Sumsel, IGB Surya Negara di kantor Perwakilan BPKP Sumsel siang itu, memberikan apresiasi mendalam kepada BPKP yang dianggap telah membesarkannya. "Dengan bekal dari BPKP, sejak tahun 2004, saya telah turut membangun penyelidikan KPK sejak nol," tandas Iswan Elmi, usai menghadiri seminar hasil kegiatan koordinasi dan supervisi di Pemprov Sumsel.

Menurut Iswan, dirinya adalah struktural di KPK yang telah menjalani ke empat deputi yang ada di KPK. Sebelum dilantik sebagai Deputi Bidang Pencegahan Korupsi KPK pada 18 Juli 2012, Iswan Elmi menjabat sebagai Deputi Bidang Informasi dan Data (INDA) sejak 30 Desember 2011. Pria kelahiran Belinyu, Bangka, pada 27 Januari 1960 ini mengawali karier di KPK sebagai Direktur Penyelidikan sejak tahun 2004. Sebelum di KPK, lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) pada 1987 dan University of Missouri, Kansas City, pada 1991 ini menjabat sebagai Kepala Subdirektorat Investigasi Instansi Pemerintah Daerah pada Deputi Bidang Investigasi BPKP. 

"Saya hanya mengimplemantasikan bekal dari BPKP, antara lain instrumen yang saya beri nama 'lembar kerja' atau 'worksheet'. Dengan menggunakan Instrumen ini kita dapat menjawab pertanyaan sampai dimana proses penyelidikan berlangsung, apa yang menjadi sasaran, dan ke arah mana penyelidikan di arahkan, dan seterusnya. Inilah antara lain instrumen yang dipakai dalam kasus  Century. Untuk kasus itu saya tidak bisa membayangkan kalau tidak menggunakan instrumen seperti ini. Karena kasus itu demikian kompleks. Keberhasilan instrumen ini dalam mengawal penyelidikan sampai menarik Badan Anti Rasuah Malaysia untuk studi banding ke KPK," paparnya. 

Toh, meskipun demikian, seraya merendah, Iswan mengaku dirinya di BPKP waktu itu tidak ada apa-apanya. "Tapi kemudian saya buktikan, jika kita mau mengembangkan diri untuk berkembang, kita pasti bisa. Dan itu pilihan," ujarnya tegas. Harapannya, agar BPKP ke depan dapat senantiasa memberikan kontribusinya bagi bangsa dan negara ini, dimulai dari diri sendiri. 

(diupload di www.bpkp.go.id pada 7 November 2012)

Minggu, 28 Oktober 2012

TIGA HAL YANG MEMBUAT PT SEMEN BATURAJA TETAP PERLUKAN BPKP

"Kami tetap memerlukan bantuan BPKP untuk membantu satuan pengawas intern (SPI) kami untuk mengevaluasi internal control kami. Meskipun peraturan menghendaki SPI kami mandiri, tapi sekarang ini kami rasa belum saatnya,” demikian disampaikan Direktur Utama PT Semen Baturaja, Pamudji Rahardjo ketika dilakukan exitmeeting evaluasi internal control pada Selasa 23 Oktober 2012 di kantor pusat PT Semen Baturaja, Palembang. 

Menurut Dirut PT Semen Baturaja ada beberapa hal yang perlu disadari kalau evaluasi ini tanpa didampingi oleh BPKP. Pertama, karena masalah psikis. Kondisi saat ini sulit diharapkan SPI punya cukup nyali untuk menghadapi dewan direksi dan komisaris untuk mewawancara, meminta mengisi kuesioner dan melakukan klarifikasi atas kuesioner yang diisi.

Kedua, BPKP setidaknya dikenal sebagai pembina sistem pengendalian intern pemerintah. Dengan peran dan pengalaman BPKP itu, pendampingan BPKP atas evaluasi internal control BUMN kami, tentu, akan lebih terjaga mutunya (quality assurance), dan diakui hasilnya. "Diakui tidak saja oleh kami tetapi juga oleh pihak luar yang mengetahui bahwa evaluasi internal control kami didampingi oleh BPKP, " ujar Pamudji.

Ketiga, BPKP mengevaluasi internal control bukan di BUMN kami saja. "Dengan benchmarking di beberapa BUMN itu, kami pun dapat terbantu untuk mengikuti produk terbaik dari BUMN lain." 

Kepala Perwakilan BPKP Sumsel IGB Surya Negara dalam pengantarnya yang disampaikan oleh Kabid Akuntan Negara Dikdik Sadikin, memuji capaian hasil evaluasi internal control PT Semen Baturaja. Sorotan terutama ditujukan kepada penilaian unsur lingkungan pengendalian, dimana nilai sub unsur integritas dan nilai etika, komitmen, kepemimpinan  serta pimpinan yang kondusif memiliki nilai sekitar 90-an. "Ini berarti pimpinan PT Semen Baturaja memiliki komitmen yang tinggi. Dan dengan komitmen yang tinggi ini maka kami yakin pembenahan unsur yang lainnya akan dapat mudah dan segera terlaksana."

Dalam exit meeting tersebut, dewan direksi hadir lengkap, yaitu Pamudji Rahardjo (Direktur Utama), Agus Wahyudin (Direktur Produksi dan Pengembangan), Ageng Purboyo Anggrenggono (Direktur Keuangan), Romlan Kurniawan (Direktur Umum dan SDM) dan Roesniwati (Direktur Pemasaran).

Pembenahan dari hasil evaluasi memang diperlukan mengingat terdapat beberapa sub unsur yang dinilai belum baik, lebih dikarenakan belum tersedianya pedoman yang diperlukan. Karena itu Kabid AN Dikdik Sadikin antara lain menyarankan manajemen untuk melengkapi dokumen atau pun pedoman internal, antara lain dengan cara “ATM”. Singkatan dari “Ambil”, “Tiru”, dan “Modifikasi” dari best practices pedoman BUMN lain. “Tetapi tentunya harus didahului dengan survey atau pemetaan, agar pedoman yang dihasilkan secara spesifik dapat sesuai dengan bisnis proses yang ada di PT Semen Baturaja. Dengan demikian, mana yang 'gatal' dan mana yang 'digaruk' dapat kena sasaran,” imbuhnya.

Pengendali teknis BPKP Sumsel Husin Gasim dalam pemaparan draft final hasil evaluasi internal control tersebut mengatakan nilai yang diperoleh PT Semen Baturaja termasuk dalam kategori "Baik". Namun demikian, menurut Husin Gasim, saat itu masih dimungkinkan perbaikan nilai apabila ada data atau dokumen yang ketika proses evaluasi berjalan ada pejabat PT Semen Baturaja yang masih "malu-malu" untuk menyerahkannya kepada evaluator, sehingga "Kami pun waktu itu cukup malu-malu untuk menilainya," ujar Husin Gasim.

(ditulis untuk dailynews website bpkp.go.id)

Kamis, 04 Oktober 2012

Kenangan Kunjungan ke Kantor Ayah 2 Januari 2012

Tahun baru 2012. Aku ingat itu. Sementara orang lain masih terlelap karena malamnya begadang menyoraki pergantian tahun, Subuh kami sudah di bandara dan terbang ke Palembang.

Tanggal 2 Januari 2012, Leika dan anak-anak: Sheila, Diaz dan Farrel, berkunjung ke kantorku. Tak akan kulupakan itu.

Mereka lah semangat kerjaku. Yang memberi arti bagi setiap langkahku di kantor yang mereka kunjungi itu. Yang membuatku berharga pada setiap tetes rezeki yang kupersembahkan untuk mereka. Alhamdulillah. Akan selalu kukenang itu.

                                   

Senin, 06 Agustus 2012

STRUKTURAL DI BPKP PERWAKILAN SUMATERA SELATAN


Di BPKP Perwakilan Sumatera Selatan Palembang, di sanalah saya (paling kiri) sekarang bertugas sebagai Kabid Akuntan Negara.

Pak IGB Surya Negara (kedua kiri, duduk di baris bawah) adalah Kepala Perwakilan.

Saya bekerja sama dengan para Kepala Bidang lain, yaitu Buyung Wiromo Samudro (Kabid APD, kedua, berdiri di atas),  Erwin (Kabid IPP, tengah), Hanafi (Kabag TU, kanan atas), dan Ichsan Fuady (Kabid Investigasi, paling kanan).

Pak Erwin mulai awal Agustus lalu dipromosikan dan dimutasi ke Papua Barat. Sampai dengan uploading tulisan ini, pengganti Pak Erwin belum ditetapkan. Namun, tentu, kekompakan dan kinerja di kantor harus tetap jalan. Bagaimana pun.

Kamis, 02 Agustus 2012

Bertemu Sultan Palembang


Sultan Palembang datang ke kantor Perwakilan BPKP Sumsel. Ada misi yang disampaikan tentang pengawasan.


"BPKP dulu namanya menyeramkan. Tapi bersyukurlah kini ia menjadi mitra, yang secara bersama menegakkan pengawasan...." demikian ucapan itu keluar dari seorang Raja pada Selasa sore 30 Agustus 2012 di kantor BPKP Perwakilan Sumsel, Palembang.

Raja? Tentu saja ini bukan adegan ketoprak Mataram. Atau, dalam versi Palembang dikenal dengan pementasan tradisional legendaris Dul Muluk. Tapi benar-benar yang datang adalah aseli Raja. Dialah Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin, yang berdasarkan silsilah Sultan Sultan Palembang Darussalam, Beliau keturunan dari tiga Sultan yang pernah berkuasa di Palembang.

Di depan para pegawai dan purnabhakti BPKP Sumsel, Yang Mulia Sultan memperkenalkan diri seraya menyampaikan pandangannya.

"Pengawasan dan pemecahan permasalahan dari hasil pengawasan di ranah publik seharusnya tidak hanya dihadapi dengan infrastruktur birokrasi semata," ujar Yang Mulia Sultan. "Tetapi, saya yakin, persoalan kemasyarakatan akan lebih lancar dan berjalan tanpa gejolak, apabila local genius  atau kearifan lokal dan budaya adat setempat turut serta difungsikan.. Potensi ini lah yang seringkali terlupakan untuk mendapat tempat dalam konstelasi pengawasan dan pemecahan permasalahan tersebut."

Kepala Perwakilan BPKP Sumsel IGB Surya Negara menyambut baik kesediaan Yang Mulia Sultan untuk hadir di kantornya sore itu. Dikatakan, pelestarian budaya lokal, telah digagas di kantornya. Terbukti pada saat HUT Ke-29 BPKP pada bulan Mei lalu, BPKP Perwakilan Sumsel telah berinsiatif untuk menyelenggarakan pementasan Dul Muluk, yang merupakan teater rakyat legendaris. Bagian dari budaya lokal yang nyaris mulai ditinggalkan oleh generasi muda.

Sebagai rasa salutnya Sultan kepada Kaper BPKP Sumsel yang dianggapnya telah turut menjaga kekayaan tradisi Palembang, maka pada acara itu Sultan menyematkan Tanda Kerajaan Kesultanan Palembang pada baju koko yang dipakai Kaper. "Dengan Tanda Kerajaan ini, maka Pak Surya telah menjadi kerabat kami, yang tak akan lekang sampai akhir hayat," demikian dinyatakan Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin.  

Pada kesempatan kali itu pun hadir para pemain Teater Tradisi Legendaris "Dul Muluk", yang pernah turut serta memeriahkan acara HUT Ke-29 BPKP. 
Di hadapan Sultan, kepada pimpinan teater Dul Muluk Johar Saad, Kepala Perwakilan BPKP IGB Surya Negara menyerahkan bantuan bagi pengembangan teater tradisional tersebut. Para pemain Dul Muluk yang sebagian besar masih remaja itu bahkan diberi kesempatan berbincang dan bersalaman dengan Sultan, yang selama ini mereka perankan di panggung. "Yang Mulia Sultan, perkenalkan: aku yang memerankan lakon 'pangeran' di panggung Dul Muluk... Tidak menduga... Senang bertemu dengan Sultan yang sesungguhnya," ujar seorang pemain.


Menjelang berbuka puasa, acara diisi dengan siraman rohani Islam, dan pisah sambut pegawai.

Pegawai yang dilepas pada acara itu adalah Erwin Ak, MBA (Kabid IPP yang promosi eselon dua ke UP4B di Papua Barat), Yudi Adriansyah (promosi sebagai Kasubag Prolap ke BPKP NAD) dan Drs. Alamsyah (pensiun). Sedangkan yang disambut adalah Arius Lopen (dari Lampung), Ary Wibowo (dari Lampung), Redyan Dedy Umrien (dari Batam), Parpunguan Siregar (dari Bengkulu). 
 

Acara ditutup dengan berbuka puasa bersama dan Shalat Maghrib berjamaah.

Sungguh, sebuah sore yang indah: acaranya padat, bermutu dan penuh hikmah.. Sebuah berkah di Bulan Ramadhan!
Semoga pengalaman itu dapat memperkaya khasanah dinamika kejayaan BPKP di masa datang... Aamiin.

Silaturahmi ke Sekda Kota Palembang

SEBUAH amanah mesti dijaga. Apa lagi ia tetangga kita. Dan itu yang terjadi antara BPKP Sumsel yang berkantor di Palembang dan Pemerintah Kota Palembang.



Amanah itu adalah bagaimana agar Pemko Palembang yang tetangga kami itu dapat tetap beropini WTP. Bagaimana, selayaknya tetangga, agar Pemko Palembang dapat senantiasa nyaman dengan bantuan kami di BPKP Sumsel.


Maka, Rabu siang satu Agustus yang penuh dengan kehangatan silaturahmi itu, Pak Sekda M. Husni Thamrin di ruang kerjanya, membuka tangannya, menyambut kehadiran Kepala Perwakilan BPKP Sumsel IGB Surya Negara yang didampingi Kabid APD Buyung W. Samudro dan Kabid Akuntan Negara Dikdik Sadikin.

Ada empat "PR" kepada kami yang memenuhi agenda Pak Sekda. Pertama, kegiatan optimalisasi Pendapatan Asli Daerah. Selanjutnya, permasalahan PBJ di PDAM, pemenuhan persyaratan BLUD pada puskesmas-puskesmas di Kota Palembang, serta pemutakhiran data hasil pengawasan.

Pak Sekda M. Husni Thamrin yang didampingi Inspektur Toto Sukarman yang tak lain pegawai BPKP yang dipekerjakan di Pemko Palembang, Kepala DPPKAD serta dan Asisten II, berterimakasih atas kesediaan Pak Surya dan stafnya untuk membantu membenahi manajemennya. Yang tak kalah penting adalah  turut menjaga agar opini WTP yang sudah diraih Pemko Palembang dapat tetap dipertahankan.

 
Semoga kehangatan silaturahmi di bulan Ramadhan ini mewujudkan kinerja yang baik dan bermanfaat bagi kemashalatan masyarakat, khususnya masyarakat Kota Palembang. Aamiin. n 

Senin, 16 Juli 2012







Perpustakaan BPKP Sumsel
barangkali seperti Diah Pudirani
Sepi. Sendiri.
Tapi menghanyutkan.

Di perpustakaan BPKP Sumsel
Tempat Diah bertugas
Ada keheningan
Meski ada juga suara berbisik-bisik.
Sayup.
Seolah mengikuti desah nafas kita. Tentang ilmu.


Tentang impian
Tentang harapan 
Yang terukir indah dalam baris-baris huruf yang rapi
dan melenakan


Perpustakaan BPKP Sumsel barangkali
seperti Diah Pudirani, dara 25 tahun kelahiran Pelembang

Ada kerapihan lewat
sentuhan halus jemarinya
pada setiap buku. Juga pada setiap rak yang
setia berbaris berjajar
Juga ada kesyahduan
pada kelepak suara lembar kertas yang dibuka perlahan.dan dibaca dengan takzim

Tapi di perpustakaan, kita tahu,
ada yang diam-diam tersembunyi
pada makna setiap kata

Seperti sebuah misteri
dalam suara lirih yang mengganggu kita

Seperti sebuah teka-teki
pada angin sepoi yang menyejukkan rasa kita

Di sini ada sekitar 1800 buku, kata Diah.


Dan akan terus bertambah
Karena Kaper BPKP Sumsel, Pak Surya, 

punya program satu pegawai
menyumbang setidaknya satu buku

Sehingga koleksi perpustakaan bertambah lengkap

Dari buku tentang pengawasan, akuntansi, agama, motivasi, sampai biografi.

Bukan cuma itu, kata Diah,
di sini pun tersedia
layanan informasi publiksebagai Humas BPKP Sumsel

selama bukan informasi yang rahasia

Dan ajaibnya, kata Diah
di perpustakaan ini ada aplikasi
yang antara lain dapat membisikkan Diah
nama-nama peminjam yang terlambat mengembalikan buku
Tapi bagaimana pun, buku itu sendiri memang ajaib

Ia bisa membuat kita terpekur 
Seperti guru yang bijak
Yang diam-diam membuat kita bergulat dengan pemikiran,
dengan angan, bahkan dengan kerinduan
tanpa instruksi, tanpa perintah

Karena itulah barangkali
perpustakaan BPKP Sumsel

seperti Diah Pudirani
Seperti keteduhan
yang membasuh penat kita
dari kebisingan kota


Seperti sebuah sepi yang sendiri
Tapi menghanyutkan..



(Selamat buat Diah Pudirani yang kini tak sendiri lagi.
Jumat, 6 Juli 2012 dilangsungkan akad nikahnya, dan Sabtu 7 Juli 2012  diselenggarakan resepsinya di Gedung Serbaguna PT Pusri, Palembang.
Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawahdah wa rahmah. Aamiin )

PENEMU BALON PEMBUKAAN HUT

Balon-balon warna-warni itu lusuh, selusuh dirinya. Sebagian besar balon-balon itu kempes. Terkulai di atas pucuk kayu gelam di tengah rawa luas Desa Lebung, Banyuasin.
Melihat balon-balon itu, Romsah (laki-laki, 38 tahun) pencari ikan rawa itu tak punya dugaan dan harapan apa-apa. Kecuali tentang dua anaknya yang masih kecil, di kelas satu dan dua SD. Kecuali tentang harapannya melihat binar keceriaan yang memancar di mata anak-anak melihat dirinya pulang membawa balon-balon itu. Kemiskinan bagi dirinya tak berarti apa-apa dibandingkan dengan kebahagiaannya melihat anak-anak tumbuh sehat dan senang. Derita dan keletihannya akan menjadi sirna, terhapus kebahagiaannya melihat keceriaan mereka menyambut dirinya pulang nanti. Meski hanya membawa sekadar balon yang sudah memudar warnanya. Meski dirinya hanya seorang pencari ikan rawa.  
Maka, matahari siang yang terik membakar kulitnya pada Senin 30 April 2012 tak menyurutkan niatnya untuk memanjat pohon kayu gelam. Tiga meter di atas, balon-balon itu seolah melambai kepada dirinya.  
Angin panas menerpa. Perjalanannya ke tempat itu, rawa-rawa tempatnya mencari nafkah, adalah perjalanan panjang. Berjalan kaki dua kilometer, disambung dengan naik sampan satu jam dan mendaki bukit satu kilometer lagi. Tapi Romsah, lelaki lulusan SD itu, mengerti. Sangat mengerti. Hidup baginya tak menyisakan banyak pilihan. Kecuali kerja keras, seberapa pun hasilnya.
Tetapi Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sepulang ke rumah, tak hanya balon yang didapat. Spanduk plastik yang menyertai balon itu diteliti sang mertua yang ikut tinggal bersama. Selain tulisan CINDO yang besar, ternyata di sudut bawah tertulis “Barang siapa menemukan spanduk ini akan mendapat hadiah Rp500ribu..” Di situ tertera alamat BPKP Perwakilan Sumatera Selatan.
Alhamdulillah, seru Romsah sembari merengkuh spanduk plastik itu. Ada haru menyelinap di dada. Ada hangat yang menggenang di mata. Padahal, menurut Romsah, spanduk itu hampir saja ditinggal. Tapi kemudian diambil karena pertimbangan lumayan untuk digunakan sebagai alas.
Spanduk itu sendiri sesungguhnya telah mengalami perjalanan panjang. Ia mengudara bersama kumpulan balon, yang dilepas pada pembukaan HUT ke-29 BPKP di kantor BPKP Sumsel pada 13 April lalu. Setelah 17 hari mengudara, spanduk dan balon-balon itu turun dan menyangkut di batang kayu gelam di daerah rawa tempat Romsah mencari nafkah. Seolah mengantar rezeki bagi penangkap ikan rawa tersebut...
Maka, Rabu tanggal 2 Mei 2012 jam satu siang adalah hari yang membahagiakan di kantor Perwakilan BPKP Sumsel. Meskipun Romsah yang diantar abangnya Romsen harus menempuh perjalanan panjang satu setengah jam ke Palembang dengan motor. Meskipun mereka sempat salah alamat dan menyasar ke gedung BPK RI. Meskipun semula mereka menyangka BPKP itu sebuah bank. Namun keletihan itu membuahkan hasil. Pertemuannya dengan Kepala Perwakilan BPKP Sumsel IGB Surya Negara dan jajaran, yaitu Erwin (Kabid IPP) sebagai Ketua Panitia HUT, Dikdik Sadikin (Kabid AN), Hanafi (Kabag TU), dan Dindin Safrudin (Kasubag Umum) membuahkan rasa haru bercampur bahagia. Bukan hanya karena BPKP Sumsel dapat menghadiahkan limaratus ribu rupiah ditambah dua jam dinding sebagai hadiah tambahan. Tapi karena selama bertahun-tahun BPKP Sumsel melepas balon dengan spanduk berhadiah pada setiap acara pembukaan peringatan HUT BPKP, baru kali ini ada yang menemukan.

Tuhan memang tidak pernah tidur. Dia akan senantiasa menunjukkan jalan bagi hambaNya yang tulus berusaha untuk mendapatkan rezekinya.