Rabu, 19 Desember 2012

Berangkat ke Amerika

"JI.. RO..LU ..PAT... MO..!" Suara orang menghitung dalam bahasa Jawa itu (Ji, siji= satu, ro, loro = dua, lu, telu= tiga, dst) terdengar bukan di tengah-tegah keramaian Terminal Terboyo Semarang. Tetapi di tengah hingar bingar kesibukan Bandara JFK, New York, Amerika Serikat. Saat itu waktu setempat menunjukkan pukul setengah lima sore Ahad 9 Desember 2012. Adi Widodo, salah seorang peserta, sedang menghitung kelengkapan seluruh peserta yang berjumlah 14 peserta. 

Kami sudah melalui pemeriksaan pabean waktu itu. Pabean bandara JFK New York memang tampak cukup ketat, tapi tak seluruh peserta dicek mendetail. Ada peserta yang harus sampai difoto dan diambil sidik jari, tapi ada juga yang hanya dicek kelengkapan dokumennya saja dan selesai dengan cepat. Yang jelas, waktu itu Adi cukup puas. Pesertanya lengkap, demikian juga dengan bagasinya.

Lamanya waktu yang kami habiskan untuk birokrasi bandara itu, karena kami ditempatkan pada antrian yang salah. Seharusnya jalur diplomatik, karena kami menggunakan paspor dinas. Tapi officer waktu itu tidak punya pilihan karena 28 jalur yang ada sudah demikian penuh. Maklum, Menjelang natal adalah waktu sibuk (peak season) bagi bandara.

Bandara New York memang menjadi gerbang kami memasuki Amerika setelah menikmati penerbangan sekitar 18 jam (termasuk transit di KL dan Amsterdam) mengitari hampir setengah lingkaran dunia: Jakarta-Amsterdam-New York.

***

Dari Cengkareng, pesawat KLM mengangkut kami sekitar pukul setengah sembilan malam. Kami transit setengah jam di Kuala Lumpur. Sempat tersenyum ketika ada plang "tuntutan bagasi', maksudnya "claim luggage". Apa salahnya bagasi sampai harus dituntut? Toh temen saya membalas, sama saja dengan menuntut ilmu. Apa salahnya ilmu sampai harus dituntut?

Dari Kuala Lumpur, kami ganti pesawat, meski masih KLM, ke Amsterdam. Transit di Bandara Schiphol Amsterdam, selama enam jam. Masih sempat makan siang, melihat museum di dalam bandara. Dan untuk keperluan itu harus menukarkan sebagian uang kami dengan euro. Barulah, setelah itu terbang ke Amerika, dengan gerbangnya: New York.

***  

Hanya saja di New York, kami harus puas dengan menikmati bandaranya saja. Karena waktu yang digunakan untuk pemeriksaan pabean, pengambilan bagasi, mengurus transit dan memasukkan kembali bagasi, serta perpindahan ke gedung lain dalam area bandara dengan bus khusus ke tempat pesawat Delta yang akan membawa kami ke Columbus, memakan waktu yang tidak sebentar.  

Sekitar jam setengah delapan malam, kami pun terbang meninggalkan New York dengan pesawat kecil dari maskapai Delta. Kami tiba di Bandara Columbus, Ohio, pada pukul setengah sepuluh malam waktu setempat.

Beruntung ada warga Indonesia yang demikian ramah menjemput kami. Ada Pak Abas, Pak Kimi, Pak Bimo dan Monang.

Kami tak langsung ke hotel, tapi dijamu terlebih dahulu di rumah Pak Abas. Makan malam yang ramah, sungguh sebuah welcoming party yang melegakan. Baru setelah itu kami diantar  ke hotel.

Sebuah awal yang baik, dengan sebuah keramahan yang luar biasa. Dijemput, dijamu, dan diantar sampai ke hotel. Bukan main.

***