Senin, 16 Juli 2012







Perpustakaan BPKP Sumsel
barangkali seperti Diah Pudirani
Sepi. Sendiri.
Tapi menghanyutkan.

Di perpustakaan BPKP Sumsel
Tempat Diah bertugas
Ada keheningan
Meski ada juga suara berbisik-bisik.
Sayup.
Seolah mengikuti desah nafas kita. Tentang ilmu.


Tentang impian
Tentang harapan 
Yang terukir indah dalam baris-baris huruf yang rapi
dan melenakan


Perpustakaan BPKP Sumsel barangkali
seperti Diah Pudirani, dara 25 tahun kelahiran Pelembang

Ada kerapihan lewat
sentuhan halus jemarinya
pada setiap buku. Juga pada setiap rak yang
setia berbaris berjajar
Juga ada kesyahduan
pada kelepak suara lembar kertas yang dibuka perlahan.dan dibaca dengan takzim

Tapi di perpustakaan, kita tahu,
ada yang diam-diam tersembunyi
pada makna setiap kata

Seperti sebuah misteri
dalam suara lirih yang mengganggu kita

Seperti sebuah teka-teki
pada angin sepoi yang menyejukkan rasa kita

Di sini ada sekitar 1800 buku, kata Diah.


Dan akan terus bertambah
Karena Kaper BPKP Sumsel, Pak Surya, 

punya program satu pegawai
menyumbang setidaknya satu buku

Sehingga koleksi perpustakaan bertambah lengkap

Dari buku tentang pengawasan, akuntansi, agama, motivasi, sampai biografi.

Bukan cuma itu, kata Diah,
di sini pun tersedia
layanan informasi publiksebagai Humas BPKP Sumsel

selama bukan informasi yang rahasia

Dan ajaibnya, kata Diah
di perpustakaan ini ada aplikasi
yang antara lain dapat membisikkan Diah
nama-nama peminjam yang terlambat mengembalikan buku
Tapi bagaimana pun, buku itu sendiri memang ajaib

Ia bisa membuat kita terpekur 
Seperti guru yang bijak
Yang diam-diam membuat kita bergulat dengan pemikiran,
dengan angan, bahkan dengan kerinduan
tanpa instruksi, tanpa perintah

Karena itulah barangkali
perpustakaan BPKP Sumsel

seperti Diah Pudirani
Seperti keteduhan
yang membasuh penat kita
dari kebisingan kota


Seperti sebuah sepi yang sendiri
Tapi menghanyutkan..



(Selamat buat Diah Pudirani yang kini tak sendiri lagi.
Jumat, 6 Juli 2012 dilangsungkan akad nikahnya, dan Sabtu 7 Juli 2012  diselenggarakan resepsinya di Gedung Serbaguna PT Pusri, Palembang.
Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawahdah wa rahmah. Aamiin )

PENEMU BALON PEMBUKAAN HUT

Balon-balon warna-warni itu lusuh, selusuh dirinya. Sebagian besar balon-balon itu kempes. Terkulai di atas pucuk kayu gelam di tengah rawa luas Desa Lebung, Banyuasin.
Melihat balon-balon itu, Romsah (laki-laki, 38 tahun) pencari ikan rawa itu tak punya dugaan dan harapan apa-apa. Kecuali tentang dua anaknya yang masih kecil, di kelas satu dan dua SD. Kecuali tentang harapannya melihat binar keceriaan yang memancar di mata anak-anak melihat dirinya pulang membawa balon-balon itu. Kemiskinan bagi dirinya tak berarti apa-apa dibandingkan dengan kebahagiaannya melihat anak-anak tumbuh sehat dan senang. Derita dan keletihannya akan menjadi sirna, terhapus kebahagiaannya melihat keceriaan mereka menyambut dirinya pulang nanti. Meski hanya membawa sekadar balon yang sudah memudar warnanya. Meski dirinya hanya seorang pencari ikan rawa.  
Maka, matahari siang yang terik membakar kulitnya pada Senin 30 April 2012 tak menyurutkan niatnya untuk memanjat pohon kayu gelam. Tiga meter di atas, balon-balon itu seolah melambai kepada dirinya.  
Angin panas menerpa. Perjalanannya ke tempat itu, rawa-rawa tempatnya mencari nafkah, adalah perjalanan panjang. Berjalan kaki dua kilometer, disambung dengan naik sampan satu jam dan mendaki bukit satu kilometer lagi. Tapi Romsah, lelaki lulusan SD itu, mengerti. Sangat mengerti. Hidup baginya tak menyisakan banyak pilihan. Kecuali kerja keras, seberapa pun hasilnya.
Tetapi Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sepulang ke rumah, tak hanya balon yang didapat. Spanduk plastik yang menyertai balon itu diteliti sang mertua yang ikut tinggal bersama. Selain tulisan CINDO yang besar, ternyata di sudut bawah tertulis “Barang siapa menemukan spanduk ini akan mendapat hadiah Rp500ribu..” Di situ tertera alamat BPKP Perwakilan Sumatera Selatan.
Alhamdulillah, seru Romsah sembari merengkuh spanduk plastik itu. Ada haru menyelinap di dada. Ada hangat yang menggenang di mata. Padahal, menurut Romsah, spanduk itu hampir saja ditinggal. Tapi kemudian diambil karena pertimbangan lumayan untuk digunakan sebagai alas.
Spanduk itu sendiri sesungguhnya telah mengalami perjalanan panjang. Ia mengudara bersama kumpulan balon, yang dilepas pada pembukaan HUT ke-29 BPKP di kantor BPKP Sumsel pada 13 April lalu. Setelah 17 hari mengudara, spanduk dan balon-balon itu turun dan menyangkut di batang kayu gelam di daerah rawa tempat Romsah mencari nafkah. Seolah mengantar rezeki bagi penangkap ikan rawa tersebut...
Maka, Rabu tanggal 2 Mei 2012 jam satu siang adalah hari yang membahagiakan di kantor Perwakilan BPKP Sumsel. Meskipun Romsah yang diantar abangnya Romsen harus menempuh perjalanan panjang satu setengah jam ke Palembang dengan motor. Meskipun mereka sempat salah alamat dan menyasar ke gedung BPK RI. Meskipun semula mereka menyangka BPKP itu sebuah bank. Namun keletihan itu membuahkan hasil. Pertemuannya dengan Kepala Perwakilan BPKP Sumsel IGB Surya Negara dan jajaran, yaitu Erwin (Kabid IPP) sebagai Ketua Panitia HUT, Dikdik Sadikin (Kabid AN), Hanafi (Kabag TU), dan Dindin Safrudin (Kasubag Umum) membuahkan rasa haru bercampur bahagia. Bukan hanya karena BPKP Sumsel dapat menghadiahkan limaratus ribu rupiah ditambah dua jam dinding sebagai hadiah tambahan. Tapi karena selama bertahun-tahun BPKP Sumsel melepas balon dengan spanduk berhadiah pada setiap acara pembukaan peringatan HUT BPKP, baru kali ini ada yang menemukan.

Tuhan memang tidak pernah tidur. Dia akan senantiasa menunjukkan jalan bagi hambaNya yang tulus berusaha untuk mendapatkan rezekinya.