Selasa, 13 Desember 2011

Jumpa Bupati Pemecah Rekor MURI

Dengan modal APBD hanya sekitar Rp 12 miliar, Bupati OKU Timur mendongkrak daerahnya dari daerah miskin menjadi daerah yang tingkat kemiskinannya terendah se-Indonesia. Tak salah apabila Herman Deru adalah Bupati peraih suara terbanyak dalam sejarah Pilkada di Indonesia, yaitu 94,56 persen suara (melampaui perolehan Walikota Solo sekarang). Banyak resep menyejahterakan rakyat yang dibeberkan Sang Bupati ketika bertemu Tim BPKP Sumsel. Namun, bagaimana pun, putera Komering yang mendapat gelar kebangsawanan Jawa ini masih perlu BPKP Sumsel: opini Laporan Keuangan Pemdanya masih WDP.

“APBD kami miskin, tetapi rakyat kami kaya. Dan tugas Pemda lah untuk membuat rakyat menjadi kaya dan sejahtera..!” demikian Bupati Ogan Komering Ulu (OKU) Timur Herman Deru kepada Tim Perwakilan BPKP Sumsel ketika bertandang ke ruang kerjanya di Martapura, ibukota OKU Timur, pada Kamis tanggal 1 Desember 2011.

“Para Kepala Daerah yang sering mengeluhkan kecilnya APBD sering tidak menyadari bahwa APBD hanyalah stimulan. Partisipasi masyarakat sesungguhnya adalah kekuatan besar untuk meningkatkan kesejahteraan bersama,” imbuhnya.

Herman Deru (44 tahun) yang kami temui sore itu adalah sosok Bupati hasil pilkada dengan perolehan suara terbanyak dalam sejarah pilkada di Indonesia, yaitu 94,56 persen suara. Jumlah perolehan suaranya yang dicatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) ini melampaui perolehan Walikota Solo sekarang. Di hadapan Kepala Perwakilan IGB Surya Negara, Kabid AN Dikdik Sadikin dan Plh Kabid APD Hanafi, Herman Deru mengatakan bahwa jumlah suara yang mencerminkan dukungan rakyat yang luar biasa itu dimanfaatkannya untuk kembali menjadi berkah bagi masyarakatnya sendiri. Itu sebabnya, jumlah APBD yang kecil bagi Herman Deru tidak menjadi ganjalan untuk mengangkat kesejahteraan masyarakatnya.

Dalam pertemuan itu banyak resep out of the box yang dibeberkan kepada Tim BPKP Sumsel. Resep itu antara lain Perda Badan Amalan Zakat (BAZ). Dari program ini, tahun lalu terkumpul dan tercatat di APBD sekitar Rp 2 miliar, dan digunakan antara lain untuk bedah rumah warganya yang kurang layak, hingga mencapai 350 rumah. Dari APBD hanya diberikan Rp50 juta per rumah. “APBD adalah pancingan, agar masyarakat tergerak menyisihkan rezekinya untuk membantu sesama,” demikian Herman Deru menyampaikan.

Dalam bidang pangan, OKU Timur semula rawan pangan. Panen tidak menolong banyak, karena harga beras jatuh saking banyaknya padi yang dihasilkan. Resep Herman Deru adalah menggilir jadwal aliran air irigasi pada beberapa lahan yang tersebar di OKU Timur sehingga panen tidak berbarengan. Dengan cara itu, panen menjadi merata sepanjang tahun. Ditambah lagi, komoditi beras digunakan pula oleh Pemdanya sebagai ganti remunerasi pegawai. Setiap pegawai pemda yang berkeluarga mendapatkan 20 kg beras kualitas unggul. Pegawai senang, petani pun tertolong. Harga beras pun stabil.

Di samping itu, lahan pertanian dilarang dialih fungsikan. Atau, kalaupun memaksa, yang bersangkutan berkewajiban membuka lahan pertanian lain dengan luas tiga kali lipat dari lahan yang dialihfungsikan itu. Maka, OKU Timur pun menjelma menjadi penyuplai 60 persen kebutuhan beras seluruh Sumsel.

Dalam bidang pertanahan, Bupati mengupayakan tanah untuk jalan dan sarana umum dengan gratis, dengan berbagai cara. Seperti jalan alternatif yang terhambat selama 27 tahun karena terganjal dengan tanah TNI. Dalam kepemimpinan sang Bupati masalah itu selesai, tanah itu diberikan untuk digunakan pembuatan jalan dengan cuma-cuma. Demikian pula dengan tanah untuk jalan sepanjang 5 kilometer milik seorang konglomerat, berhasil didapat Bupati dengan gratis pula.

“Kami ingin pembangunan untuk masyarakat di sini benar-benar terasa dan terlihat,” ujarnya. “Karena itu, pengeluaran APBD selain hanya sebagai stimulan, dananya harus dihemat betul. Kami tidak mendirikan BUMD yang biasanya hanya menggerogoti APBD. Dana bansos di anggaran kami pun nol. Di sini juga tidak ada proyek mercu suar. Bahkan proyek multiyears pun tidak ada. Tapi, kami berhasil mendapatkan piala adipura tiga tahun berturut-turut.”


Penghematan terlihat pula pada pengadaan kendaraan dinas. “Sudah tujuh tahun, pemda tidak membuat pengadaan kendaraan dinas. Tetapi Bapak lihat sendiri, mobil dinas kami semua terawat. Resepnya? Setiap tahun, semua kendaraan dinas dikonteskan. Mana yang paling bagus perawatannya diberi penghargaan, dan yang perawatannya buruk kendaraannya kami sita. Itu sebabnya, dana APBD kami yang tidak seberapa itu cukup berdaya untuk mengangkat rakyat kami untuk menjadi lebih kaya.”

Hasil kerja kerasnya selama enam tahun terlihat nyata. Daerah OKU Timur yang semula miskin, sekarang justru dicatat BPS sebagai daerah yang paling rendah tingkat kemiskinannya di seluruh Indonesia. Demikian pula, OKU Timur yang dahulu rawan kriminal, sekarang relatif aman. “Daerah yang dulu sarang kriminal, sekarang justru menjadi tempat transit kendaraan. Di samping itu, di sepanjang jalan di daerah kami, tidak ada lagi kaleng-kaleng sumbangan pembangunan rumah ibadah. Kalau Bapak masih temui itu, tendang saja. Karena di daerah kami meminta-minta demi alasan agama dilarang. Itu memalukan agama,” ujarnya tegas.

Kedekatan dengan masyarakatnya yang sebagian besar bersuku Jawa, menjadikan Bupati yang asli berdarah Komering ini dianugrahi gelar bangsawan dari Sultan Kraton Solo Pakubuwono XIII, sebagai Kanjeng Raden Haryo (KRH) Haji Mengkudiningrat SH MM. Gelar ini diberikan karena sang Bupati dianggap berhasil mengayomi penduduk keturunan Jawa di daerahnya.


Namun dari semua keberhasilan itu, ada yang masih mengganjal Kanjeng Raden Haryo asal Komering ini: laporan keuangan Pemdanya masih beropini Wajar Dengan Pengecualian (WDP). Hal itu disampaikan Bupati kepada Kaper BPKP Sumsel, IGB Surya Negara, untuk dibantu.

Dari hasil audit BPK atas LKPD OKU Timur tahun 2010 memang terdapat beberapa kualifikasi yang menyangkut aset dan persediaan dengan jumlah yang tidak terlalu signifikan. “Kami siap membantu Pemda Bapak untuk mencapai opini WTP. Kalau tadi Bapak yang memberikan kami resep, untuk opini ini giliran kami yang akan memberi resep. Dari pengamatan kami, untuk mencapai opini WTP, laporan keuangan Bapak tinggal didorong sedikit lagi saja. Kami berharap semoga opini WTP dapat dicapai melengkapi apa yang Bapak raih selama ini,” kata IGB Surya Negara di penghujung pertemuan. (HUMAS BPKP SUMSEL)